Rupiah Melemah Picu Kenaikan Harga Perabotan Rumah Tangga, Pengamat Sebut Kelas Menengah Paling Terdampak

Jumat 22 Mei 2026, 18:27 WIB
Perabotan di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: Poskota/M. Tegar Jihad)

Perabotan di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: Poskota/M. Tegar Jihad)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Kenaikan harga mulai dirasakan masyarakat seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Produk elektronik hingga perabot rumah tangga yang bergantung pada komponen impor disebut menjadi barang yang paling cepat mengalami penyesuaian harga di pasaran.

Pengamat ekonomi Bhima Yudhistira menilai kenaikan harga perabotan rumah tangga terjadi akibat tingginya ketergantungan industri terhadap bahan baku dan komponen impor. Kondisi tersebut membuat harga barang lebih cepat menyesuaikan ketika nilai tukar rupiah mengalami pelemahan.

“Kenapa perabotan rumah tangga, barang elektronik seperti kulkas, TV, rice cooker itu cepat naik? Karena transmisi dari pelemahan nilai tukar akan semakin cepat ketika barang-barangnya diimpor komponennya atau barang jadinya diimpor,” ujar Bhima kepada Poskota, Jumat, 22 Mei 2026.

Menurut Bhima, hingga kini pemerintah dinilai belum memiliki solusi yang kuat untuk mengurangi ketergantungan impor, terutama pada sektor elektronik dan kebutuhan rumah tangga.

Baca Juga: Rupiah Melemah, Konsumen Keluhkan Harga Perabotan di Pasar Jatinegara Naik 

“Nah, inilah yang sebenarnya pemerintah belum punya solusi. Apalagi barang-barang elektronik komponen impornya cukup tinggi, enggak semuanya memenuhi TKDN,” katanya.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat pelaku usaha dan penjual langsung menyesuaikan harga saat rupiah mengalami tekanan terhadap dolar AS. Bahkan, produk yang dijual melalui platform e-commerce juga ikut terdampak karena sebagian besar masih menggunakan komponen impor.

“Termasuk barang-barang yang dijual dari e-commerce, itu kan komponen impornya tinggi sekali. Jadi begitu ada pelemahan kurs, apalagi pelemahan kurs-nya cukup dalam, maka penjual akan langsung cepat melakukan penyesuaian harga kepada konsumen akhir,” ujarnya.

Kelas Menengah Dinilai Paling Terdampak

Bhima menilai kelompok masyarakat yang paling terdampak akibat kenaikan harga perabotan rumah tangga adalah kelas menengah, terutama mereka yang baru bekerja atau baru memiliki rumah sehingga masih membutuhkan banyak perlengkapan rumah tangga.

Baca Juga: Imbas Rupiah Melemah, Pedagang Perabot di Pasar Jatinegara Keluhkan Omzet Turun 50 Persen

“Yang dirugikan adalah kelompok menengah sebenarnya, yang baru punya rumah, baru mendapat pekerjaan. Merekalah yang kemungkinan besar akan terdampak dengan adanya tekanan pelemahan nilai tukar rupiah,” katanya.


Berita Terkait


News Update