Kopi Pagi edisi hari ini, Senin, 30 Maret 2026. (Sumber: Poskota)

Kopi Pagi

Kopi Pagi: Lebaran Politik

Senin 30 Mar 2026, 06:46 WIB

POSKOTA.CO.ID - “Dalam kehidupan bermasyarakat, saling memaafkan adalah awal dari adanya sifat kekeluargaan, untuk membangun kerekatan sosial. Bukan sebaliknya mencari-cari kesalahan orang yang dapat memicu perselisihan. Lebih-lebih dalam kehidupan politik yang penuh dinamika,” kata Harmoko.

Bulan puasa umumnya terdapat istilah Safari Ramadhan, berlanjut dengan safari lebaran, begitu lebaran datang. Pascalebaran, dikemas dengan acara halal bihalal, dari ketika ketiga kegiatan tersebut, terdapat satu makna, yakni merajut silaturahmi sosial demi memperkokoh kebersamaan, persatuan dan kesatuan.

Tak berlebihan, sekiranya pada ketiga momen tersebut sering digunakan sebagai ajang membangun komunikasi oleh para elite politik, mulai dari petinggi parpol hingga pejabat publik dengan berkunjung di saat lebaran. Pada bulan Syawal ini memantapkan soliditas dengan menggelar halal bihalal.

Dalam dunia politik, halal bihalal bukanlah hal baru. Presiden Soekarno sudah menggelar halal bihalal di Istana dengan mengundang semua pimpinan parpol dan tokoh bangsa dari beragam kalangan. Tujuannya membangun rekonsiliasi di antara para elite politik, meredakan ketegangan dan safari politik guna memperkuat persatuan nasional.

Baca Juga: Kopi Pagi: Pembinaan Karakter Pejabat

Boleh disebut itulah “lebaran politik” yang berakar dari konsep halal bihalal yang diinisiasi KH Wahab Chasbullah kepada Bung Karno pada tahun 1948 untuk menyatukan faksi yang berselisih saat itu.

Tradisi ini terus berlanjut hingga sekarang ini, tak hanya di kalangan elite politik, hingga tingkat RT/RW dengan menggelar halal bihalal di bulan Syawal. Ini tradisi positif, yang tak hanya perlu kita rawat dan jaga, tetapi dikembangkan dengan beragam pola dan bentuk, terus diupdate di era kekinian sesuai dengan situasinya.

Jika kita cermati, apa pun bentuk safari lebaran hingga gelaran halal bihalal tak hanya menjadi ajang saling maaf memaafkan, tetapi di dalamnya terkandung tujuan mulia membangun kerukunan dan kegotongroyongan tanpa membedakan latar belakang status sosial ekonominya.

Yang perlu dikemas kemudian, janganlah safari lebaran dan halal bihalal menjadi ajang formalitas tahunan, tak hanya menjadi ritual keagamaan semata, tetapi diimplementasikan melalui aksi nyata.

Baca Juga: Kopi Pagi: Mandiri Energi Kian Mendesak

Ini harus dimulai dari elite politik itu sendiri dengan memberikan keteladanan. Jangan sampai di tingkat RT/RW terbangun kerukunan dan keharmonisan secara nyata, tetapi di level para elite masih terjadi perseteruan karena lebih mengedepankan kepentingan dan sikap politiknya.

Sikap boleh terus konsisten, kepentingan bisa berbeda, tetapi ujung jalan tidak boleh berseberangan, tujuan akhir harus sama, yakni kesejahteraan dan kemakmuran rakyat adalah di atas segalanya sebagaimana tujuan awal dan cita-cita mendirikan negeri ini.

Saling memaafkan di momen lebaran ini hendaknya menjadi awal melupakan kesalahan dan perbedaan politik masa lalu. Kita meyakini, segala persoalan sejatinya bisa diawali penyelesaiannya dengan kata maaf dan saling memaafkan. Mulai dari lingkup terkecil di lingkungan keluarga, RT /RW, kelurahan, kantor pemda hingga istana.

Dalam kehidupan bermasyarakat, saling memaafkan adalah awal dari adanya sifat kekeluargaan, untuk membangun kerekatan sosial. Bukan sebaliknya mencari-cari kesalahan orang yang dapat memicu perselisihan, seperti dikatakan Harmoko lewat kolom “Kopi Pagi”.

Lebih-lebih dalam kehidupan politik yang penuh dinamika. Dikenal istilah "tak ada lawan abadi" menjadi "lawan dan rival" tahun lalu, tetapi hanya dalam hitungan hari, bahkan bisa juga menit, bisa berubah menjadi "kawan".

Itulah kehidupan yang serba neka dan penuh dinamika yang seyogyanya tak ada lagi dendam, apalagi "dendam politik".

Baca Juga: Kopi Pagi: Taat Kontrol Diri

Ingat, di balik kesalahan, pasti terselip kebaikan. Kadang kita sering lupa dengan kebaikan seseorang hanya karena satu kesalahan. Seakan satu kesalahan itu menghapus ribuan kebaikan yang pernah dilakukan.

Dalam pepatah Jawa juga sering diajarkan "yen siro dibeciki liyan iku tulisen ing watu,supoyo ora ilang lan tansah kelingan" (jika kamu menerima kebaikan dari orang lain tulislah di batu, supaya tidak pernah hilang dari ingatan).

Sebaliknya "yen siro gawe kabecikan marang liyan iku tulisen ing lemah supoyo enggal ilang lan ora kelingan" yang berarti jika kamu berbuat baik kepada orang lain tulislah di tanah supaya lekas ilang dari ingatan.

Ingatlah kebaikannya, lupakan kesalahannya. Ajaran ini sesuai dengan nilai dan budaya bangsa kita sebagaimana yang terkandung dalam butir-butir Pancasila, khususnya sila ke-2 Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Baca Juga: Kopi Pagi: Tak Selamanya Diam Itu Emas

Lebaran dan halal bihalal di bulan Syawal ini bisa dijadikan momen untuk mengkomunikasikan terhadap pelaksanaan program pemerintah, utamanya yang bisa terdampak akibat situasi politik global.

Menjadi momen menyatukan energi seluruh pihak agar lebih difokuskan menghadapi situasi geopolitik yang tidak menentu yang berefek kepada situasi politik, ekonomi dan sosial.

Menjadi momen kian memperkokoh stabilitas nasional yang dibungkus melalui silaturahmi dan kebersamaan, meski beda pikiran dan posisi politik.

Mari lebaran ini kita jadikan momen kian merajut silaturahmi guna memperkuat kerukunan, kebersamaan dan persatuan nasional, di tengah keberagaman. Bismillah. (Azisoko)

Tags:
RamadhanlebaranHarmokokopi pagi

Tim Poskota

Reporter

Febrian Hafizh Muchtamar

Editor