“Yang lebih penting lagi, bebas dari hawa nafsu tersebut dilakukan dengan penuh kesadaran, bukan karena keterpaksaan, bukan juga karena ingin pujian dan sanjungan serta penghargaan. Bukan pula karena ingin mendongkrak elektabilitas dan popularitas,” urai mas Bro.
“Memang ada yang berpuasa sekadar untuk mencari nama dan pengakuan?,” kata Yudi.
“Itu sih kembali kepada diri sendiri. Yang tahu puasa atau tidak adalah dirinya sendiri, Jujur atau dusta juga kembali ke diri sendiri, orang lain tidak akan tahu, terlebih perbuatan tersebut tidak akan membatalkan puasa. Karenanya puasa itu terletak kepada kesadaran diri,” kata Heri.
“Terus setelah kemenangan diperoleh mau ke mana?,” tanya Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Terasa Aneh, Tapi Nyata Adanya
“Lebaran itu terjadi di bulan Syawal. Sesuai namanya Syawal itu artinya peningkatan, yaitu bulan manusia memperoleh kemenangan, bebas dari belenggu hawa nafsu setelah berpuasa,” ujar mas Heri.
“Maknanya di bulan Syawal ini hendaknya menjadi bulan peningkatan iman dan takwa dan amal saleh dengan memperbanyak kebaikan, bukan keburukan. Makin terbebas dari belenggu hawa nafsu, bukan malah terbelenggu,” kata Yudi.
“Selagi masih suasana lebaran. Melalui kolom ini, kami mengucapkan Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin atas segala salah dan khilaf dalam meramu obrolan warteg,” kata mas Bro.
