POSKOTA.CO.ID - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu pagi menjadi perhatian serius Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Guncangan kuat tersebut tidak hanya dirasakan di sejumlah wilayah, tetapi juga memicu tsunami dengan ketinggian maksimum mencapai 1,67 meter di Pota, Kabupaten Manggarai Timur.
Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan, gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Busur Belakang Flores. Struktur tektonik ini berada di laut bagian utara Kepulauan Nusa Tenggara dan terbagi dalam sejumlah segmen.
“Struktur tersebut secara historis pernah menghasilkan sejumlah gempa besar di kawasan Nusa Tenggara,” ujar Lana dalam penjelasannya.
Catatan sejarah memperlihatkan aktivitas tektonik di kawasan ini bukan sesuatu yang baru. Beberapa gempa yang pernah dikaitkan dengan struktur tersebut antara lain gempa Flores Utara pada 1961, Solor pada 1982, Flores pada 1992, serta Manggarai pada 2003.
Baca Juga: Jelang HUT ke-81 RI, Pedagang Musiman Resah Bendera Tak Laku
Kondisi Geologi Ikut Memengaruhi Dampak Guncangan
Menurut Badan Geologi, wilayah terdampak memiliki kondisi geologi yang cukup beragam. Bentang alamnya terdiri atas dataran, kawasan berombak dan bergelombang, hingga perbukitan serta pegunungan.
Dari sisi batuan, kawasan tersebut tersusun atas batuan vulkanik berusia Tersier dan batuan sedimen periode Kuarter. Karakteristik ini menjadi bagian penting dalam melihat bagaimana guncangan gempa diteruskan dan dirasakan di permukaan.
Kondisi tanah juga menjadi perhatian melalui parameter Vs30. Di wilayah terdampak terdapat variasi kondisi tapak, mulai dari material sangat padat dan batuan lunak hingga tanah yang lebih lunak.
Perbedaan karakter tanah tersebut dapat membuat respons terhadap guncangan tidak sama di setiap lokasi. Pada kondisi tertentu, tanah lunak dapat memperkuat guncangan di permukaan dan meningkatkan risiko terhadap bangunan.
Beberapa Dampak yang Perlu Diwaspadai
Badan Geologi mencatat kawasan terdampak memiliki potensi bahaya gempa bumi kategori menengah hingga tinggi. Pemodelan menunjukkan wilayah yang paling dekat dengan sumber gempa dapat mengalami intensitas VII hingga VIII Modified Mercalli Intensity (MMI).
Sementara itu, guncangan sekitar VI MMI masih berpotensi dirasakan hingga Manggarai Timur dan Kabupaten Sikka.
