Oleh: Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID - Sering dikatakan Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan momen spiritual yang penuh makna. Momen kembali ke fitrah (kesucian) dengan saling memaafkan satu sama lain.
Tak berlebihan seki raya Idul Fitri diwarnai pulang kampung alias mudik untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan dengan orang tua, keluarga dan sanak famili lainnya.
Maknanya mudik tak sebatas perjalanan pulang ke kampung halaman, tetapi ada sisi lain, silaturahmi, sekalian jika memungkinkan bagi-bagi rezeki.
“Saya saat lebaran juga pulang kampung halaman juga untuk kembali ke Fitri,” kata mas Bro mengawali obrolan warteg pasca lebaran bersama sohibnya, bung Heri dan bang Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Bukan Zamannya Mengadu Domba
“Maksudnya kamu balen ( rujuk) dengan Fitri,” kata Yudi.
“Bukan, fitri itu kan bisa berarti ke sifat asal, fitrah (suci) saya mudik untuk menambah kesucian diri memohon maaf pada seluruh keluarga. Menebar kasih sayang setelah sebulan penuh berpuasa dan menyempurnakan ibadah dengan membayar zakat,” kata mas Bro.
“Oh walah,,, aku pikir kamu pulang kampung untuk rujuk sama mantan pacarmu itu, yang bernama Fitri,” kata Yudi.
“Idul Fitri itu juga dapat dimaknai sebagai hari kemenangan dari budak hawa nafsu setelah sebulan penuh menjalankan puasa Ramadan. Nafsu menahan amarah, menahan segala emosi dan sifat buruk lainnya,” kata Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Anak, Cucu, hingga Cicit Perusahaan
