“Koplik spot ini adalah bintik putih kecil pada mukosa pipi bagian dalam. Ini sangat khas pada campak dan biasanya muncul satu sampai dua hari sebelum ruam. Itu menjadi tanda patognomonik campak,” ujarnya.
Setelah fase awal tersebut, ruam khas campak akan mulai muncul dalam bentuk ruam makulopapular berwarna merah. Ruam ini umumnya dimulai dari wajah dan belakang telinga, kemudian menyebar ke leher, badan hingga kaki.
“Ruam khas campak biasanya muncul setelah fase prodromal. Ruam makulopapular merah ini biasanya dimulai dari wajah dan belakang telinga, kemudian menyebar ke leher, badan hingga kaki dan bisa bertahan sekitar lima sampai enam hari,” kata Dicky.
Baca Juga: THR Swasta Dipotong Pajak, Menkeu Purbaya: Kalau Keberatan, Protes ke Bos
Dicky mengatakan, yang perlu diwaspadai penderita campak sudah dapat menularkan virus bahkan sebelum ruam muncul. Hal ini sering kali membuat penyakit tersebut cepat menyebar karena banyak orang tidak menyadari bahwa anak sudah terinfeksi.
“Empat hari sebelum ruam muncul anak sebenarnya sudah bisa menularkan virus. Ini yang membuat campak sangat cepat menyebar, karena sering kali orang belum menyadari bahwa itu campak,” ujarnya.
Selain demam tinggi, anak yang terinfeksi campak biasanya mengalami berbagai keluhan lain seperti kelemahan tubuh, penurunan nafsu makan, mudah rewel, cepat lelah, hingga sakit kepala. Gejala lain juga dapat berupa batuk kering, nyeri tenggorokan, mata merah, serta sensitivitas terhadap cahaya.
Pada beberapa kasus, terutama pada anak dengan status gizi buruk atau sistem imun yang lemah, campak dapat menyebabkan komplikasi serius yang berpotensi mengancam jiwa.
“Komplikasi yang sering terjadi antara lain pneumonia yang menjadi penyebab utama kematian pada kasus campak. Selain itu juga bisa terjadi otitis media, diare, hingga ensefalitis. Bahkan ada juga komplikasi jangka panjang yang disebut subacute sclerosing panencephalitis,” jelas Dicky.
Baca Juga: Kenapa Dilarang Keramas saat Imlek? Begini Penjelasan Lengkap Pantangan dan Mitosnya
Ia mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum terdapat obat antivirus khusus untuk mengatasi campak. Oleh karena itu, penanganan yang dilakukan umumnya bersifat suportif atau membantu tubuh melawan infeksi secara alami.
“Penanganannya bersifat supportive care, seperti pemberian obat penurun demam, cairan yang cukup agar tidak dehidrasi, serta nutrisi yang memadai. Selain itu biasanya diberikan vitamin A sesuai rekomendasi WHO karena terbukti dapat mengurangi keparahan penyakit dan menurunkan risiko komplikasi serta kematian,” katanya.
