Campak Sangat Menular, Epidemiolog Ingatkan Orang Tua Waspadai Gejala Awal pada Anak

Selasa 10 Mar 2026, 15:44 WIB
Ilustrasi, Epidemiolog imbau orang tua waspada gejala campak pada anak. (Sumber: freepik)

Ilustrasi, Epidemiolog imbau orang tua waspada gejala campak pada anak. (Sumber: freepik)

Selain pengobatan, dia mengatakan, langkah isolasi juga sangat penting untuk mencegah penularan kepada orang lain.  Anak yang terinfeksi sebaiknya tidak bersekolah dan membatasi kontak dengan kelompok rentan seperti bayi, ibu hamil, serta orang dengan sistem imun lemah.

“Anak yang terinfeksi sebaiknya tidak sekolah dan membatasi kontak dengan bayi, ibu hamil, atau individu dengan imunitas rendah. Isolasi minimal dilakukan selama empat hari setelah ruam muncul,” ujar dia.

Dicky juga mengingatkan orang tua untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala yang lebih berat seperti sesak napas, kejang, diare berkepanjangan, atau jika anak tidak mampu makan dan minum dengan cukup.

Baca Juga: Takbiran Tetap Digelar di Bali Saat Nyepi, Menag Ungkap Batasan Waktu dan Aturan

Cegah Campak dengan Imunisasi Lengkap

Lebih lanjut, Dicky menegaskan bahwa cara paling efektif untuk mencegah campak adalah melalui imunisasi lengkap. Di Indonesia, vaksin campak diberikan pertama kali pada usia 9 bulan, kemudian dilanjutkan dengan booster pada usia 18 bulan serta tambahan imunisasi melalui program sekolah.

“Vaksin campak memiliki efektivitas sekitar 97 persen setelah dua dosis. Karena itu sangat penting memastikan anak mendapatkan dua dosis lengkap,” kata Dicky.

Menurutnya, untuk mencegah terjadinya wabah, cakupan imunisasi minimal harus mencapai 95 persen dari populasi. Angka tersebut diperlukan untuk membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity.

“Untuk mencegah wabah diperlukan cakupan vaksinasi minimal 95 persen. Ini penting karena virus campak sangat menular dan bahkan bisa bertahan di udara hingga dua jam,” ujarnya.

Selain imunisasi, upaya lain yang perlu dilakukan adalah penerapan langkah-langkah pencegahan seperti isolasi kasus, pelacakan kontak, serta imunisasi pasca pajanan apabila terjadi wabah di suatu wilayah.

“Ketika terjadi outbreak, isolasi kasus, pelacakan kontak, dan imunisasi pasca pajanan harus dilakukan agar penyebaran virus dapat segera dikendalikan,” kata Dicky. (cr-4) 


Berita Terkait


News Update