Profil Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Baru usai Ali Khamenei Tewas

Senin 09 Mar 2026, 20:17 WIB
Majelis Ahli Iran menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru. (Sumber: X/@actuenvif)

Majelis Ahli Iran menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru. (Sumber: X/@actuenvif)

POSKOTA.CO.ID - Iran memasuki babak baru dalam sejarah politiknya pada Senin, 9 Maret 2026. Negara tersebut resmi memiliki pemimpin tertinggi baru setelah Majelis Ahli menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran atau Supreme Leader.

Keputusan itu diambil setelah wafatnya pemimpin sebelumnya, Ali Khamenei, yang meninggal dalam serangan udara pada 28 Februari 2026.

Serangan tersebut dilaporkan melibatkan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat saat itu serta operasi militer yang dikaitkan dengan Israel.

Penunjukan Mojtaba Khamenei langsung menjadi perhatian dunia. Pasalnya, ini merupakan pertama kalinya dalam sejarah Republik Islam Iran sejak Revolusi Islam Iran 1979 bahwa posisi pemimpin tertinggi jatuh kepada anak dari pemimpin sebelumnya.

Baca Juga: Hancur Total atau Kalah Besar? Pertaruhan Maut Trump dan Netanyahu Lawan Iran

Latar Belakang Mojtaba Khamenei

Mojtaba Khamenei lahir di kota Mashhad pada 8 September 1969. Ia merupakan putra kedua dari Ali Khamenei yang telah lama memimpin Iran sebagai Pemimpin Tertinggi.

Sejak muda, Mojtaba menempuh pendidikan agama yang ketat di seminari di Qom, salah satu pusat pendidikan Islam Syiah paling berpengaruh di Iran. Lingkungan pendidikan ini dikenal sebagai tempat lahirnya banyak ulama dan pemimpin agama di negara tersebut.

Meski memiliki latar belakang pendidikan agama yang kuat, Mojtaba dikenal sangat tertutup dari publik. Banyak masyarakat Iran bahkan mengaku belum pernah mendengar suaranya secara langsung, meskipun namanya sering disebut dalam lingkaran kekuasaan negara.

Peran Mojtaba di Kekuasaan Iran

Dalam beberapa tahun terakhir, Mojtaba disebut-sebut memiliki pengaruh besar di balik layar pemerintahan Iran. Ia kerap disebut sebagai gatekeeper atau penjaga gerbang yang mengatur akses terhadap ayahnya saat masih menjabat sebagai pemimpin tertinggi.

Peran ini membuatnya dipercaya mengendalikan berbagai jaringan penting, mulai dari struktur keamanan hingga sejumlah jaringan bisnis yang berkaitan dengan elite politik Iran. Berkat posisi tersebut, Mojtaba menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam struktur kekuasaan Iran meskipun jarang tampil di hadapan publik.

Baca Juga: Iran Darurat BBM: Kuota Dipangkas Jadi 20 Liter di Teheran Usai Serangan AS-Israel Hancurkan Depot Minyak

Kedekatan dengan Garda Revolusi Iran

Salah satu sumber kekuatan politik Mojtaba Khamenei adalah hubungannya dengan Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC, yang merupakan kekuatan militer dan intelijen utama Iran.

Kedekatan itu disebut telah terjalin sejak masa Perang Iran–Irak yang berlangsung antara 1980 hingga 1988. Dalam konflik tersebut, Mojtaba dikabarkan ikut bertempur di garis depan bersama Batalyon Habib, sebuah unit sukarelawan dalam struktur IRGC.

Pengalaman ini dianggap memberi legitimasi revolusioner di mata para petinggi militer Iran dan memperkuat posisinya di dalam sistem politik negara tersebut.

Arah Kebijakan Politik Iran

Terpilihnya Mojtaba Khamenei diperkirakan akan mempertahankan arah kebijakan luar negeri Iran yang keras terhadap Barat. Sejumlah pengamat menilai Mojtaba memiliki pandangan yang sejalan dengan ayahnya dalam menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan Israel.

Majelis Ahli bahkan menegaskan bahwa pemimpin tertinggi Iran idealnya adalah figur yang ditentang oleh musuh-musuh negara, bukan dipuji oleh mereka. Pernyataan tersebut juga menjadi respons terhadap komentar dari Donald Trump yang sebelumnya menilai Mojtaba tidak memiliki bobot politik yang cukup.

Baca Juga: Sejarah Hari Perempuan Internasional 8 Maret dan Makna Pentingnya bagi Dunia

Memimpin Iran di Tengah Situasi Krisis

Mojtaba Khamenei mengambil alih kepemimpinan Iran dalam kondisi yang sangat sulit. Serangan udara yang menewaskan ayahnya juga merenggut nyawa sejumlah anggota keluarganya, termasuk ibu, saudara perempuan, serta istrinya, Zahra Haddad-Adel.

Kini ia memegang kendali penuh atas berbagai kebijakan strategis Iran, mulai dari program nuklir, kekuatan militer, hingga sistem yudisial negara. Di saat yang sama, Iran masih menghadapi tekanan berat berupa sanksi ekonomi internasional serta meningkatnya ancaman militer dari Amerika Serikat, yang membuat kepemimpinan Mojtaba Khamenei langsung diuji sejak hari pertama menjabat.


Berita Terkait


News Update