Salah satu sumber kekuatan politik Mojtaba Khamenei adalah hubungannya dengan Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC, yang merupakan kekuatan militer dan intelijen utama Iran.
Kedekatan itu disebut telah terjalin sejak masa Perang Iran–Irak yang berlangsung antara 1980 hingga 1988. Dalam konflik tersebut, Mojtaba dikabarkan ikut bertempur di garis depan bersama Batalyon Habib, sebuah unit sukarelawan dalam struktur IRGC.
Pengalaman ini dianggap memberi legitimasi revolusioner di mata para petinggi militer Iran dan memperkuat posisinya di dalam sistem politik negara tersebut.
Arah Kebijakan Politik Iran
Terpilihnya Mojtaba Khamenei diperkirakan akan mempertahankan arah kebijakan luar negeri Iran yang keras terhadap Barat. Sejumlah pengamat menilai Mojtaba memiliki pandangan yang sejalan dengan ayahnya dalam menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan Israel.
Majelis Ahli bahkan menegaskan bahwa pemimpin tertinggi Iran idealnya adalah figur yang ditentang oleh musuh-musuh negara, bukan dipuji oleh mereka. Pernyataan tersebut juga menjadi respons terhadap komentar dari Donald Trump yang sebelumnya menilai Mojtaba tidak memiliki bobot politik yang cukup.
Baca Juga: Sejarah Hari Perempuan Internasional 8 Maret dan Makna Pentingnya bagi Dunia
Memimpin Iran di Tengah Situasi Krisis
Mojtaba Khamenei mengambil alih kepemimpinan Iran dalam kondisi yang sangat sulit. Serangan udara yang menewaskan ayahnya juga merenggut nyawa sejumlah anggota keluarganya, termasuk ibu, saudara perempuan, serta istrinya, Zahra Haddad-Adel.
Kini ia memegang kendali penuh atas berbagai kebijakan strategis Iran, mulai dari program nuklir, kekuatan militer, hingga sistem yudisial negara. Di saat yang sama, Iran masih menghadapi tekanan berat berupa sanksi ekonomi internasional serta meningkatnya ancaman militer dari Amerika Serikat, yang membuat kepemimpinan Mojtaba Khamenei langsung diuji sejak hari pertama menjabat.
