Hancur Total atau Kalah Besar? Pertaruhan Maut Trump dan Netanyahu Lawan Iran

Senin 09 Mar 2026, 17:01 WIB
Hancur total atau kalah besar? pertaruhan maut Trump dan Netanyahu melawan Iran (Sumber: Generated AI)

Hancur total atau kalah besar? pertaruhan maut Trump dan Netanyahu melawan Iran (Sumber: Generated AI)

POSKOTA.CO.ID - Timur Tengah kini dilanda api perang yang semakin membara sejak akhir Februari 2026. Apa yang dimulai sebagai serangan balasan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran telah berkembang menjadi konflik regional penuh.

Iran melancarkan serangan balasan ke negara-negara Teluk yang dianggap sekutu Washington, termasuk fasilitas vital dan target militer.

Perang ini memasuki hari ke-8 dengan gelombang serangan udara intensif.

AS dan Israel terus membombardir target di Tehran, termasuk infrastruktur minyak dan pangkalan militer, sementara Iran membalas dengan rudal dan drone ke arah Israel serta sekutu regionalnya.

Baca Juga: Trump Murka Inggris-Spanyol Tolak Bantu AS Serang Iran

Trump: Visi Penghancuran Total dan Panggilan Revolusi Rakyat Iran

Presiden Donald Trump memperketat kebijakan imigrasi dengan mencabut status hukum sementara bagi ribuan migran. Kebijakan ini memicu pro-kontra di tengah rencana deportasi massal. (Sumber: Pinterest/Tommy Hyman)

Dari Mar-a-Lago, Florida, Presiden AS Donald Trump kembali tampil dengan gaya khasnya yang tegas dan tak konvensional.

Dalam pernyataan video, Trump menegaskan bahwa tujuan operasi militer adalah menghancurkan sepenuhnya kemampuan militer Iran, termasuk angkatan laut, program rudal, dan dukungan terhadap kelompok proksi.

"Kami akan menghancurkan rudal mereka dan meratakan industri militer hingga ke tanah," ujar Trump.

Ia juga menyerukan rakyat Iran untuk bangkit merebut kekuasaan di tengah serangan udara, dengan harapan angin perubahan rezim akan berhembus kuat.

Baca Juga: China Tuduh AS Kecanduan Perang, Sebut Washington Sumber Kekacauan Global

Namun, pertaruhan ini sangat berisiko. Sejarah menunjukkan bahwa serangan udara saja jarang berhasil menggulingkan rezim tanpa invasi darat besar-besaran, seperti yang terjadi di Irak 2003 atau Libya 2011.


Berita Terkait


News Update