Jepang Gunakan Robot Biksu AI sebagai Pemuka Agama

Senin 09 Mar 2026, 20:51 WIB
Robot biksu AI Buddharoid karya Kyoto University melakukan demonstrasi dengan posisi tangan berdoa saat diperkenalkan kepada media di Jepang, Februari 2026. (Sumber: Instagram/@buddhazine)

Robot biksu AI Buddharoid karya Kyoto University melakukan demonstrasi dengan posisi tangan berdoa saat diperkenalkan kepada media di Jepang, Februari 2026. (Sumber: Instagram/@buddhazine)

POSKOTA.CO.ID - Kyoto University secara resmi memperkenalkan inovasi terbaru di bidang teknologi keagamaan melalui peluncuran robot biksu berbasis kecerdasan buatan bernama Buddharoid pada Februari 2026. Kehadiran robot ini menandai langkah penting Jepang dalam mengintegrasikan tradisi spiritual kuno dengan teknologi robotika modern.

Proyek ini digagas oleh Seiji Kumagai, profesor di Institute for the Future of Human Society di universitas tersebut. Ia mengembangkan robot dengan menggabungkan model kecerdasan buatan bernama BuddhaBotPlus dengan kerangka robot humanoid Unitree G1 buatan perusahaan teknologi robotika Unitree Robotics.

Buddharoid dirancang bukan sekadar robot mekanis, melainkan “biksu digital” yang telah dilatih menggunakan berbagai kitab suci dan ajaran kompleks dalam Buddhism.

Dengan bekal tersebut, robot mampu menjawab pertanyaan spiritual maupun persoalan kehidupan yang sering kali sulit ditanyakan secara langsung kepada manusia.

Menurut Kumagai, pengembangan Buddharoid bertujuan memanfaatkan teknologi untuk memperluas akses masyarakat terhadap bimbingan spiritual.

Baca Juga: HP Gaming 2 Jutaan Paling Worth It Awal 2026, Mana yang Punya Performa Paling Kencang? Ini 6 Pilihannya

Demonstrasi Robot Memberikan Nasihat Spiritual

Melansir dari Media Jepang NHK, dalam demonstrasi yang dilakukan di hadapan awak media, Buddharoid memperlihatkan kemampuan motorik yang cukup halus. Robot humanoid tersebut menyatukan kedua tangan dalam posisi berdoa, kemudian berjalan perlahan menyerupai gestur seorang biksu.

Namun, keunggulan utama Buddharoid justru terletak pada kemampuan konseling berbasis kecerdasan buatan. Mengajukan pertanyaan mengenai kecemasan berlebihan dan kebiasaan berpikir terlalu jauh atau overthinking.

Robot itu kemudian memberikan jawaban bernuansa ajaran Buddha.

“Buddhisme mengajarkan bahwa penting untuk tidak mengikuti pikiran sendiri secara membabi buta atau terburu-buru dalam melakukan sesuatu,” ujar Buddharoid.

Robot tersebut melanjutkan penjelasannya dengan pendekatan meditasi sederhana.

“Salah satu pendekatannya adalah menenangkan pikiran dan melepaskan pikiran-pikiran itu sendiri,” tambahnya.

Tak hanya menjawab persoalan personal, Buddharoid juga mampu merespons pertanyaan mengenai hubungan sosial dan kehidupan sehari-hari. Dalam simulasi lain, ketika Kumagai bertanya mengenai hubungan pribadi, robot menyarankan agar seseorang mengevaluasi tingkat keterikatan emosional serta menjaga keseimbangan batin.

Baca Juga: Cara Buka Blokir M-Banking BCA Salah PIN 3 Kali, Mudah dan Cepat Tanpa Datang ke Bank

Solusi atas Krisis Biksu di Jepang

Pengembangan Buddharoid tidak terlepas dari kondisi sosial di Jepang yang tengah menghadapi krisis kekurangan pemuka agama.

Fenomena penuaan penduduk yang ekstrem menyebabkan banyak kuil tradisional kekurangan biksu untuk menjalankan ritual maupun kegiatan spiritual bagi masyarakat.

Dalam situasi tersebut, robot berbasis AI dinilai berpotensi menjadi solusi praktis.

Pihak Kyoto University menyebutkan bahwa di masa depan robot seperti Buddharoid dapat membantu bahkan menggantikan sebagian peran biksu manusia dalam beberapa kegiatan keagamaan tertentu.

“Di masa depan, biksu robot dapat membantu atau menggantikan beberapa upacara keagamaan yang secara tradisional dilakukan oleh biksu manusia,” demikian pernyataan pihak universitas dalam presentasi proyek tersebut.

Meski menawarkan solusi teknologi, penggunaan AI dalam praktik keagamaan juga memicu perdebatan di berbagai kalangan agama dunia.

Kyoto University sendiri mengakui bahwa diskusi etika terkait pemanfaatan teknologi digital dalam praktik religi masih perlu dilakukan secara mendalam.

Namun di sisi lain, banyak peneliti melihat inovasi ini sebagai cara baru untuk menjaga keberlangsungan tradisi spiritual di tengah perubahan sosial dan teknologi yang semakin cepat.

Jika pengembangan Buddharoid terus berlanjut, robot biksu ini diprediksi dapat menjadi simbol pergeseran budaya keagamaan modern di mana teknologi berperan sebagai jembatan antara tradisi kuno dan kebutuhan masyarakat masa kini.


Berita Terkait


News Update