“Salah satu pendekatannya adalah menenangkan pikiran dan melepaskan pikiran-pikiran itu sendiri,” tambahnya.
Tak hanya menjawab persoalan personal, Buddharoid juga mampu merespons pertanyaan mengenai hubungan sosial dan kehidupan sehari-hari. Dalam simulasi lain, ketika Kumagai bertanya mengenai hubungan pribadi, robot menyarankan agar seseorang mengevaluasi tingkat keterikatan emosional serta menjaga keseimbangan batin.
Baca Juga: Cara Buka Blokir M-Banking BCA Salah PIN 3 Kali, Mudah dan Cepat Tanpa Datang ke Bank
Solusi atas Krisis Biksu di Jepang
Pengembangan Buddharoid tidak terlepas dari kondisi sosial di Jepang yang tengah menghadapi krisis kekurangan pemuka agama.
Fenomena penuaan penduduk yang ekstrem menyebabkan banyak kuil tradisional kekurangan biksu untuk menjalankan ritual maupun kegiatan spiritual bagi masyarakat.
Dalam situasi tersebut, robot berbasis AI dinilai berpotensi menjadi solusi praktis.
Pihak Kyoto University menyebutkan bahwa di masa depan robot seperti Buddharoid dapat membantu bahkan menggantikan sebagian peran biksu manusia dalam beberapa kegiatan keagamaan tertentu.
“Di masa depan, biksu robot dapat membantu atau menggantikan beberapa upacara keagamaan yang secara tradisional dilakukan oleh biksu manusia,” demikian pernyataan pihak universitas dalam presentasi proyek tersebut.
Meski menawarkan solusi teknologi, penggunaan AI dalam praktik keagamaan juga memicu perdebatan di berbagai kalangan agama dunia.
Kyoto University sendiri mengakui bahwa diskusi etika terkait pemanfaatan teknologi digital dalam praktik religi masih perlu dilakukan secara mendalam.
Namun di sisi lain, banyak peneliti melihat inovasi ini sebagai cara baru untuk menjaga keberlangsungan tradisi spiritual di tengah perubahan sosial dan teknologi yang semakin cepat.
Jika pengembangan Buddharoid terus berlanjut, robot biksu ini diprediksi dapat menjadi simbol pergeseran budaya keagamaan modern di mana teknologi berperan sebagai jembatan antara tradisi kuno dan kebutuhan masyarakat masa kini.
