POSKOTA.CO.ID - Ketegangan keamanan di kawasan Timur Tengah kembali menjadi sorotan setelah terjadi insiden militer yang melibatkan pasukan sekutu. Tiga pesawat tempur milik Amerika Serikat dilaporkan jatuh akibat salah identifikasi oleh sistem pertahanan udara Kuwait.
Insiden ini memicu perhatian internasional karena terjadi di tengah situasi regional yang sedang berada pada tingkat kewaspadaan tinggi. Meski menimbulkan kerugian besar dari sisi militer, seluruh awak pesawat berhasil selamat.
Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) mengonfirmasi sebuah insiden fatal yang melibatkan koordinasi antar-sekutu di kawasan Teluk.
Tiga pesawat tempur F-15E Strike Eagle milik Angkatan Udara AS dilaporkan 'secara keliru ditembak jatuh' oleh sistem pertahanan udara Kuwait pada, Minggu 1 Maret 2026.
Baca Juga: Perang Iran-Israel Meletus Ancam Selat Hormuz, Harga Minyak Globak Melonjak
Kronologi Insiden Friendly Fire di Wilayah Teluk

Peristiwa salah tembak atau friendly fire ini terjadi saat aktivitas militer di ruang udara Timur Tengah meningkat tajam. Dalam kondisi siaga tinggi, kesalahan identifikasi target menjadi risiko serius bagi operasi gabungan antar-sekutu.
Meski kehilangan tiga jet tempur bernilai tinggi, U.S. Central Command memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Informasi mengenai kondisi awak pesawat disampaikan melalui pernyataan resmi di platform X @CENTCOM.
"Seluruh enam awak pesawat berhasil melontarkan diri dengan selamat, telah dievakuasi dengan aman, dan dalam kondisi stabil. Kuwait telah mengakui insiden ini, dan kami berterima kasih atas upaya pasukan pertahanan Kuwait dan dukungan mereka dalam operasi yang sedang berlangsung ini," tulis pernyataan tersebut yang dikutip Poskota pada, 3 Maret 2026.
Seluruh awak kini menjalani pemeriksaan kesehatan rutin setelah berhasil dievakuasi oleh tim gabungan yang bergerak cepat di lokasi kejadian.
Baca Juga: Update Terbaru Perang Iran vs AS-Israel: Ribuan Target Diserang, Pasar Global Bergejolak
Pengakuan Kuwait dan Dugaan Penyebab Kesalahan
Pemerintah Kuwait secara resmi mengakui insiden tersebut sebagai kecelakaan operasional yang terjadi di tengah dinamika keamanan regional yang kompleks. Hingga kini, penyebab pasti masih dalam proses penyelidikan.
