Felix Siauw turut menyoroti potensi dampak kebijakan tersebut terhadap kebebasan rakyat Gaza.
"Trump secara tidak langsung berhasil untuk melakukan sesuatu yang enggak pernah berhasil dilakukan oleh Israel, yaitu menjadikan orang-orang di Gaza tunduk dan diambil kebebasannya dan diatur nantinya seperti di West Bank dengan konsep The New Gaza."
Baca Juga: Hukum Bayar Zakat Fitrah dan Zakat Mal Sekaligus di Bulan Ramadhan: Boleh atau Tidak?
Ustaz Felix Siauw Tanggapi Serangan Iran dan Isu Perang Dunia ke-3
Reaksi keras juga disampaikan Felix Siauw saat menanggapi pernyataan Donald Trump terkait konflik terbaru di Timur Tengah melalui video media sosial pribadinya.
“Teman-teman sekalian, bos BoP Donald Trump nyerang Iran, newasin banyak banget orang-orang, dan tentu saja ini diinisiasi juga oleh Israel. Mereka berdua, Amerika dan Israel, nyerang Iran, dan ini adalah officially, resmi, World War 3 sebagaimana yang kita takutkan,” ujar Ustadz Felix.
Ia menilai penggunaan istilah perdamaian justru dijadikan legitimasi atas tindakan militer yang terjadi di kawasan tersebut.
“Trump bilang ini semua dilakukan untuk peace throughout the Middle East. Dia mengatasnamakan peace, mengatasnamakan kedamaian. Jadi, teman-teman sudah tahu sekarang seperti apa peace yang dimaksud di dalam Board of Peace. Artinya perdamaian versi Trump adalah dia boleh menyerang siapa pun, menghancurkan siapa pun. Itu perdamaian yang dia maksud,” lanjutnya.
Menurut Felix, Board of Peace lebih mencerminkan strategi geopolitik dan penguatan pengaruh global dibandingkan misi perdamaian murni.
Baca Juga: Apakah Shahih Hadits dari 'Tidur Orang Berpuasa Adalah Ibadah'? Ini Penjelasan Lengkapnya
Seruan Perubahan Cara Pandang Konflik Palestina
Di tengah meningkatnya tensi geopolitik, Felix Siauw juga menekankan pentingnya perubahan cara berpikir dalam melihat konflik Palestina dan dinamika kekuatan global.
"Liberation of mind before liberation of land. Tidak mungkin kita akan menang kecuali dengan cara kita sendiri, dengan cara yang telah disampaikan oleh Rasulullah, bukan dengan cara dan logika penjajah dan penjahat perang."
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa solusi konflik tidak hanya bergantung pada diplomasi internasional, tetapi juga pada kemandirian perspektif masyarakat yang terdampak.
