POSKOTA.CO.ID - Saat ini kejadian alam sering kali menjadi bentuk komunikasi sunyi yang mengingatkan manusia akan keterbatasan dirinya. Di antara peristiwa langit yang sarat makna spiritual adalah gerhana bulan bukan sekadar peristiwa astronomi, tetapi juga momentum perenungan dan penguatan tauhid.
Dalam ajaran Islam, gerhana dipandang sebagai ayat kauniyah, yakni tanda kebesaran Allah SWT yang hadir di bentang semesta.
Pada Selasa, 3 Maret 2026, umat Islam di Indonesia diperkirakan dapat menyaksikan Gerhana Bulan Total yang berlangsung bersamaan dengan fase bulan purnama.
Fenomena ini diprediksi terlihat di seluruh wilayah, baik pada zona WIB, WITA, maupun WIT, selama kondisi langit cerah dan tidak tertutup awan tebal.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa gerhana bulan aman untuk disaksikan tanpa alat bantu khusus, berbeda dengan gerhana matahari yang membutuhkan pelindung mata. Bagi masyarakat yang tidak berkesempatan mengamatinya secara langsung, pemantauan dapat dilakukan melalui kanal live streaming resmi sesuai zona waktu.
“Gerhana bulan total ini dapat diamati tanpa alat optik khusus selama cuaca mendukung,” demikian keterangan resmi BMKG dalam publikasi jadwal gerhana 2026.
Dengan demikian, fenomena ini menghadirkan kesempatan bagi masyarakat untuk menyaksikan keteraturan kosmik yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dengan penuh kesempurnaan.
Baca Juga: Hukum Bayar Zakat Fitrah dan Zakat Mal Sekaligus di Bulan Ramadhan: Boleh atau Tidak?
Gerhana Bulan sebagai Tanda Kebesaran Allah SWT
Dalam pandangan Islam, gerhana tidak pernah dikaitkan dengan pertanda musibah atau peristiwa mistis. Islam menolak keyakinan bahwa gerhana merupakan alamat kesialan, kematian seseorang, atau tanda datangnya malapetaka.
Sejak masa Rasulullah SAW, pemahaman keliru ini telah diluruskan. Diriwayatkan dalam hadis sahih bahwa ketika putra Nabi, Ibrahim, wafat, terjadi gerhana. Masyarakat saat itu menganggap kedua peristiwa tersebut berhubungan. Rasulullah segera menepis anggapan itu dengan sabdanya:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
