Baca Juga: Israel-AS Serang Iran, Kemlu RI Pastikan Keselamatan WNI
Dampak Konflik AS-Israel dan Iran Terhadap Penerbangan
Langkah pembatalan penerbangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di Timur Tengah setelah serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran.
Situasi tersebut memicu respons keamanan di sejumlah negara kawasan, termasuk penutupan wilayah udara sebagai langkah preventif guna melindungi penerbangan sipil.
Kondisi geopolitik yang tidak stabil membuat banyak maskapai global menyesuaikan rute penerbangan, menghindari area berisiko tinggi demi menjaga keselamatan kru dan penumpang.
Baca Juga: Profil Ayatollah Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Jadi Sasaran Operasi AS
Berpotensi Ganggu Perjalanan Umrah dan Haji
Sebagai salah satu maskapai utama di kawasan Timur Tengah, Saudia Airlines melayani berbagai rute internasional menuju Asia, Eropa, hingga Amerika. Pembatalan penerbangan ini berpotensi memengaruhi arus perjalanan internasional, termasuk jamaah umrah dan haji serta penumpang umum.
Secara terpisah, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mengungkapkan bahwa sebanyak 58.873 jemaah umrah asal Indonesia saat ini masih berada di Arab Saudi.
Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenhaj RI, Puji Raharjo, menyampaikan bahwa pemerintah terus memantau perkembangan situasi secara intensif guna memastikan kondisi jemaah tetap aman.
Ia juga mengimbau seluruh jemaah umrah Indonesia untuk tetap tenang dan tidak panik, serta terus berkoordinasi dengan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) masing-masing agar memperoleh informasi resmi dan terbaru.
Hingga saat ini, otoritas penerbangan bersama pihak maskapai masih terus memantau perkembangan situasi keamanan regional sebelum menentukan waktu pemulihan operasional penerbangan secara penuh.
Situasi keamanan yang dinamis membuat industri penerbangan global tetap berada dalam mode siaga, sambil menunggu stabilitas kawasan Timur Tengah kembali pulih.
