Menahan lapar, haus, dan hawa nafsu secara bersamaan melatih otak bagian prefrontal cortex, yakni pusat pengambilan keputusan dan kontrol impuls.
Latihan tersebut berdampak langsung pada perilaku sehari-hari. Seseorang yang terbiasa berpuasa dengan kesadaran penuh cenderung lebih mampu menahan amarah, berpikir sebelum bertindak, serta memiliki empati yang lebih tinggi terhadap orang lain.
5. Hubungan Puasa dengan Kualitas Tidur
Puasa juga berkontribusi terhadap perbaikan kualitas tidur. Pola makan yang lebih teratur dan berkurangnya konsumsi berlebihan membantu tubuh memasuki fase istirahat yang lebih dalam.
Selain itu, ketenangan mental yang dihasilkan dari puasa membuat otak lebih mudah beristirahat.
Tidur yang berkualitas berperan besar dalam menjaga daya ingat, konsentrasi, serta stabilitas emosi.
Dengan demikian, puasa berkontribusi secara tidak langsung terhadap peningkatan produktivitas dan kualitas hidup.
6. Puasa sebagai Terapi Holistik Tubuh dan Jiwa
Dari sudut pandang medis dan psikologis, puasa dapat disebut sebagai terapi holistik yang menyentuh tubuh, otak, dan jiwa sekaligus.
Manfaatnya tidak hanya dirasakan selama Ramadhan, tetapi juga dapat bertahan setelahnya, terutama jika disertai perubahan gaya hidup yang lebih sehat.
Dokter Aisah Dahlan kerap mengingatkan bahwa puasa sejatinya adalah momentum untuk mereset kebiasaan lama.
Ketika tubuh dibersihkan, emosi distabilkan, dan pikiran ditenangkan, manusia berada pada kondisi optimal untuk menjalani kehidupan yang lebih seimbang.
Dengan memahami manfaat puasa secara ilmiah dan spiritual, ibadah puasa tidak lagi dipandang semata sebagai kewajiban, melainkan sebagai anugerah besar bagi kesehatan fisik dan mental manusia.
