POSKOTA.CO.ID - Di tengah gelombang kritik tajam publik terhadap alumni Dwi Sasetyaningtyas dan suaminya, Arya Iwantoro, muncul suara berbeda dari penulis kenamaan Indonesia, Tere Liye.
Ketika linimasa dipenuhi kecaman, sang novelis justru menawarkan perspektif penyeimbang yang mengedepankan logika, proporsionalitas, dan etika publik.
Tere Liye Menilai Reaksi Warganet Terlalu Lebay
Dalam pernyataan panjang yang ia unggah di Fscebook pada Senin, 23 Februari 2026 penulis novel bestseller seperti Hafalan Sholat Delisa ini menyebut bahwa banyak warganet bereaksi “terlalu lebay” terhadap video viral Dwi Sasetyaningtyas yang menyatakan, “Cukup saya saja yang WNI.”
Baca Juga: Mantan Kekasih Lindi Fitriyana Siapa? Jadi Sorotan Usai Viral segera Menikah dengan Virgoun
“Apa sih dosanya? Saya mulai kesal melihat kasus ini. Lebay. Coba dijawab pertanyaan sederhana ini: ‘Apa sih dosa dari orang ini saat anaknya jadi WNA? Dia nyuri? Dia korup? Dia zolim?’” tulisnya tegas.
Menurutnya, viralnya kasus ini lebih disebabkan sentimen emosional ketimbang analisis rasional terhadap fakta.
Pembahasan Tiga Tuduhan Utama Publik
1. Soal Penggunaan Dana Negara
Publik menilai bahwa sebagai penerima beasiswa LPDP, Dwi dianggap menyia-nyiakan investasi negara. Tere Liye tidak menolak bahwa dana LPDP memang berasal dari APBN. Namun ia menegaskan bahwa jutaan rakyat Indonesia juga menerima bantuan negara tanpa mendapatkan pengawasan moral seketat ini.
“Sama dengan 19 juta penerima Kartu Pra Kerja. Sama dengan penerima bansos, bantuan gaji, dan berbagai fasilitas negara lainnya. Coba saya tanya, mana sumbangsih mereka dari ribuan triliun dana negara selama 20 tahun terakhir?” tulisnya.
Dengan kata lain, ia mempertanyakan standar ganda publik dalam menilai siapa yang dianggap “pantas” menerima fasilitas negara.
2. Tuduhan Menjelek-jelekkan Indonesia
Menurut Tere Liye, pihak yang berhak disebut merusak citra bangsa bukanlah seorang ibu yang menyuarakan pendapat, tetapi mereka yang menyalahgunakan kewenangan.
“Yang jelek-jelekin Indonesia itu para koruptor, yang bancakan uang rakyat lewat proyek-proyek. Yang nyuap, nyogok.”
