Ia menyinggung bahwa lembaga seperti Komisi Pemberantasan Korupsi pun menghadapi pelemahan, namun tidak menimbulkan kemarahan massal sebesar kasus Dwi.
3. Tuduhan Pamer dan Haus Validasi
Tere Liye justru balik mengkritik para warganet yang menuduh Dwi “pamer”.
“Kalian juga haus validasi. Coba cek akun medsos masing-masing. Kalian ingin eksis juga, bukan?”
Ia bahkan menyindir bahwa banyak orang menuntut moralitas tinggi dari orang lain, tetapi tidak melakukan refleksi yang sama terhadap dirinya.
Lebih jauh, penulis berkelahiran Lahat ini menyoroti kecenderungan publik untuk membesar-besarkan isu tertentu, sementara mengabaikan isu besar lain yang lebih substansial. Ia menyebut perdebatan mengenai program pemerintah, koperasi, serta isu lingkungan jarang menarik perhatian publik.
“Coba pikirkan. Kita mungkin tidak pernah mengkritik isu-isu penting. Tapi untuk video LPDP ini, kita bahas berkali-kali.”
Pernyataan ini sejalan dengan kritik budaya digital yang menyebut bahwa perhatian publik sering kali terjebak pada perkara-perkara viral, bukan yang berdampak jangka panjang bagi negara.
Dukungan dan Reaksi Tokoh Publik Lain
Kasus ini juga menarik perhatian sejumlah figur publik. Sebelumnya, budayawan Sujiwo Tejo sempat menulis surat terbuka kepada Purbaya Yudhi Sadewa mengenai polemik LPDP. Aktris Cindy Fatika Sari pun ikut bersuara terkait fenomena warganet yang menghakimi tanpa memahami konteks.
Munculnya banyak komentar dari figur publik mencerminkan betapa luasnya efek domino dari satu video viral di platform seperti TikTok dan Instagram.
Baca Juga: Agama Lindi Fitriyana Apa? Ini Biodata Calon Istri Virgoun yang Akan Segera Dinikahi
Ajakan untuk Berpikir Jernih
Pada bagian akhir tulisannya, Tere Liye mengajak publik untuk bercermin dan kembali mempertimbangkan pertanyaan utama dari kasus ini:
“Apa sih dosa dari orang ini? Jika dia korup, masukkan ke penjara. Jika tidak, abaikan saja video haus validasinya.”
