Makna hadis tersebut bukanlah anjuran membiarkan bau mulut, melainkan penegasan bahwa nilai utama puasa terletak pada kebersihan hati dan lisan. Harum yang dimaksud adalah pahala dari perilaku baik selama menjalankan ibadah.
Keutamaan Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar
Lebih jauh, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa inti keutamaan puasa dalam Islam adalah kemampuan mengendalikan diri. Orang yang berpuasa dituntut untuk menjauhi maksiat, menahan emosi, serta menjaga ucapan dan tindakan.
Dalam hadis Shahih Bukhari tentang puasa, seluruh amal baik tersebut digambarkan sebagai sesuatu yang bernilai wangi di sisi Allah. Perumpamaan kasturi digunakan karena pada masa Arab dahulu, kasturi dikenal sebagai minyak wangi terbaik dan paling bernilai tinggi.
Perbandingan ini menunjukkan betapa besar kemuliaan ibadah puasa Ramadan bagi seorang Muslim yang mampu menjalaninya dengan penuh kesadaran spiritual.
Baca Juga: Antisipasi Potensi Gangguan Jelang Buka Puasa di Depok, Polisi Tingkatkan Patroli di Kawasan Ramai
Pesan Moral dari Hadis Bau Mulut Orang Puasa
Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa hadis bau mulut orang puasa lebih harum dari kasturi menyimpan pesan moral yang mendalam. Puasa bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, tetapi juga proses memperbaiki karakter dan akhlak.
Menjaga lisan, membersihkan hati, serta memperbaiki perilaku menjadi inti utama ibadah puasa. Dengan memahami hadis secara komprehensif, umat Islam diharapkan tidak keliru dalam menafsirkan ajaran agama dan mampu mengamalkan nilai puasa secara utuh dalam kehidupan sehari-hari.
