Makna Hadis Bau Mulut Orang Puasa Menurut Ustadz Adi Hidayat, Banyak yang Salah Paham

Selasa 24 Feb 2026, 15:20 WIB
Banyak yang salah menafsirkan hadis bau mulut orang puasa. Ustadz Adi Hidayat menjelaskan hukum sikat gigi saat puasa dan makna spiritual puasa dalam Islam. (Sumber:YouTube/Adi Hidayat Official)

Banyak yang salah menafsirkan hadis bau mulut orang puasa. Ustadz Adi Hidayat menjelaskan hukum sikat gigi saat puasa dan makna spiritual puasa dalam Islam. (Sumber:YouTube/Adi Hidayat Official)

POSKOTA.CO.ID - Pemahaman mengenai hadis tentang bau mulut orang yang berpuasa kembali menjadi perhatian publik setelah dijelaskan oleh Ustadz Adi Hidayat dalam sebuah kajian keislaman.

Ceramah tersebut ramai dibahas karena memberikan sudut pandang berbeda terkait makna hadis yang selama ini sering dipahami secara harfiah.

Dalam penjelasannya, Ustadz Adi Hidayat menekankan bahwa hadis tentang bau mulut orang berpuasa tidak berkaitan langsung dengan aroma fisik, melainkan mengandung nilai spiritual yang jauh lebih dalam.

Hadis yang dimaksud berasal dari riwayat sahih yang tercantum dalam kitab Shahih al-Bukhari karya Imam Muhammad al-Bukhari. Hadis tersebut menyebutkan bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dibandingkan minyak kasturi pada hari kiamat.

Baca Juga: Perbedaan Durasi Puasa Ramadhan 2026 di Dunia Dari yang Singkat hingga Terlama, Indonesia Berada di Mana?

Makna Hadis Bau Mulut Orang Puasa Menurut Ustadz Adi Hidayat

Menurut Ustadz Adi Hidayat, hadis tentang bau mulut orang puasa bersifat majazi atau kiasan. Artinya, makna “harum” dalam hadis tersebut tidak merujuk pada bau fisik yang benar-benar wangi.

Beliau menjelaskan bahwa kata harum menggambarkan nilai pahala dan kemuliaan seorang hamba di hadapan Allah SWT. Puasa tidak hanya sebatas menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi latihan spiritual untuk menjaga akhlak.

Menahan diri dari ghibah, perkataan kasar, hinaan, hingga ucapan yang tidak bermanfaat merupakan bagian penting dari esensi puasa Ramadan. Nilai spiritual inilah yang diibaratkan sebagai aroma kasturi dalam hadis tersebut.

Baca Juga: Apakah Menangis di Siang Hari Saat Puasa Bisa Bikin Batal? Ini Penjelasannya

Apakah Hadis Ini Melarang Sikat Gigi Saat Puasa?

Pertanyaan mengenai boleh atau tidaknya membersihkan mulut saat berpuasa juga sering muncul di tengah masyarakat. Banyak orang mengira hadis tersebut menjadi alasan untuk tidak menyikat gigi selama puasa.

Ustadz Adi Hidayat menegaskan bahwa hadis tersebut sama sekali tidak melarang menjaga kebersihan mulut. Dalam kajian fikih, menjaga kebersihan tetap dianjurkan selama tidak menyebabkan batalnya puasa.

Makna hadis tersebut bukanlah anjuran membiarkan bau mulut, melainkan penegasan bahwa nilai utama puasa terletak pada kebersihan hati dan lisan. Harum yang dimaksud adalah pahala dari perilaku baik selama menjalankan ibadah.

Keutamaan Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar

Lebih jauh, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa inti keutamaan puasa dalam Islam adalah kemampuan mengendalikan diri. Orang yang berpuasa dituntut untuk menjauhi maksiat, menahan emosi, serta menjaga ucapan dan tindakan.

Dalam hadis Shahih Bukhari tentang puasa, seluruh amal baik tersebut digambarkan sebagai sesuatu yang bernilai wangi di sisi Allah. Perumpamaan kasturi digunakan karena pada masa Arab dahulu, kasturi dikenal sebagai minyak wangi terbaik dan paling bernilai tinggi.

Perbandingan ini menunjukkan betapa besar kemuliaan ibadah puasa Ramadan bagi seorang Muslim yang mampu menjalaninya dengan penuh kesadaran spiritual.

Baca Juga: Antisipasi Potensi Gangguan Jelang Buka Puasa di Depok, Polisi Tingkatkan Patroli di Kawasan Ramai

Pesan Moral dari Hadis Bau Mulut Orang Puasa

Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa hadis bau mulut orang puasa lebih harum dari kasturi menyimpan pesan moral yang mendalam. Puasa bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, tetapi juga proses memperbaiki karakter dan akhlak.

Menjaga lisan, membersihkan hati, serta memperbaiki perilaku menjadi inti utama ibadah puasa. Dengan memahami hadis secara komprehensif, umat Islam diharapkan tidak keliru dalam menafsirkan ajaran agama dan mampu mengamalkan nilai puasa secara utuh dalam kehidupan sehari-hari.


Berita Terkait


News Update