POSKOTA.CO.ID - Pemahaman mengenai hadis tentang bau mulut orang yang berpuasa kembali menjadi perhatian publik setelah dijelaskan oleh Ustadz Adi Hidayat dalam sebuah kajian keislaman.
Ceramah tersebut ramai dibahas karena memberikan sudut pandang berbeda terkait makna hadis yang selama ini sering dipahami secara harfiah.
Dalam penjelasannya, Ustadz Adi Hidayat menekankan bahwa hadis tentang bau mulut orang berpuasa tidak berkaitan langsung dengan aroma fisik, melainkan mengandung nilai spiritual yang jauh lebih dalam.
Hadis yang dimaksud berasal dari riwayat sahih yang tercantum dalam kitab Shahih al-Bukhari karya Imam Muhammad al-Bukhari. Hadis tersebut menyebutkan bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dibandingkan minyak kasturi pada hari kiamat.
Makna Hadis Bau Mulut Orang Puasa Menurut Ustadz Adi Hidayat
Menurut Ustadz Adi Hidayat, hadis tentang bau mulut orang puasa bersifat majazi atau kiasan. Artinya, makna “harum” dalam hadis tersebut tidak merujuk pada bau fisik yang benar-benar wangi.
Beliau menjelaskan bahwa kata harum menggambarkan nilai pahala dan kemuliaan seorang hamba di hadapan Allah SWT. Puasa tidak hanya sebatas menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi latihan spiritual untuk menjaga akhlak.
Menahan diri dari ghibah, perkataan kasar, hinaan, hingga ucapan yang tidak bermanfaat merupakan bagian penting dari esensi puasa Ramadan. Nilai spiritual inilah yang diibaratkan sebagai aroma kasturi dalam hadis tersebut.
Baca Juga: Apakah Menangis di Siang Hari Saat Puasa Bisa Bikin Batal? Ini Penjelasannya
Apakah Hadis Ini Melarang Sikat Gigi Saat Puasa?
Pertanyaan mengenai boleh atau tidaknya membersihkan mulut saat berpuasa juga sering muncul di tengah masyarakat. Banyak orang mengira hadis tersebut menjadi alasan untuk tidak menyikat gigi selama puasa.
Ustadz Adi Hidayat menegaskan bahwa hadis tersebut sama sekali tidak melarang menjaga kebersihan mulut. Dalam kajian fikih, menjaga kebersihan tetap dianjurkan selama tidak menyebabkan batalnya puasa.
