POSKOTA.CO.ID - Kamar Dagang dan Industri (KADIN) menilai kebijakan pemerintah yang menetapkan libur Imlek selama dua hari menjadi momentum penting dalam mendorong aktivitas ekonomi nasional.
Libur panjang tidak hanya dimanfaatkan untuk perayaan, tetapi juga untuk perjalanan wisata dan aktivitas konsumsi masyarakat.
“Kebijakan pemerintah yang menetapkan libur Imlek selama dua hari menjadi momentum bagi warga Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili dan masyarakat luas untuk bepergian, menikmati kuliner, mengunjungi destinasi wisata serta ziarah menjelang Ramadan,” ujar Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang kepada Poskota, Selasa, 17 Februari 2025.
Menurut Sarman, lonjakan pergerakan masyarakat selama libur Imlek berdampak langsung pada berbagai sektor usaha. Di sektor transportasi udara, jumlah penumpang dari Bandara Soekarno-Hatta diperkirakan mencapai 1.744.820 orang dengan tujuan kota-kota besar.
Sementara itu, penumpang kereta api di Pulau Jawa mendekati satu juta orang, dan kereta cepat Whoosh mengalami kenaikan sekitar 25 persen menjadi 25 ribu penumpang.
Tidak hanya itu, menurut Sarman, data Jasa Marga memperkirakan sebanyak 1,6 juta kendaraan melintas selama periode libur, dengan sekitar 831 ribu kendaraan keluar dari Jabodetabek.
Jika rata-rata satu kendaraan diisi empat orang, maka pergerakan manusia diperkirakan mencapai 6,4 juta orang.
“Sektor pariwisata dan turunannya seperti pusat kuliner, ritel, logistik, travel, hingga penjualan buah dan pernak-pernik Imlek diperkirakan mengalami kenaikan permintaan hingga 30 persen,” jelas Sarman.
Baca Juga: Petugas Gabungan Beri Penjagaan di Kawasan Vihara Dharma Bakti pada Perayaan Imlek 2026
Karena itu, Sarman memperkirakan total potensi perputaran uang selama perayaan dan libur Imlek 2026 dapat menembus lebih dari Rp9 triliun. Perhitungan tersebut berasal dari belanja keluarga, perjalanan wisata, tiket transportasi, hingga transaksi ritel.
