Isi Chat Terakhir Siswa SD di Demak dengan Ibunya Apa? Ini Fakta di Balik Insiden Tragis

Senin 16 Feb 2026, 15:47 WIB
Ilustrasi - Siswa sekolah dasar (SD) berusia 12 tahun di Kabupaten Demak, Jawa Tengah diduga tewas gantung diri. (Sumber: Freepik)

Ilustrasi - Siswa sekolah dasar (SD) berusia 12 tahun di Kabupaten Demak, Jawa Tengah diduga tewas gantung diri. (Sumber: Freepik)

POSKOTA.CO.ID - DISCLAIMER: Artikel ini tidak dimaksudkan untuk menginspirasi tindakan serupa. Jika Anda mengalami gejala depresi atau pikiran untuk bunuh diri, segera cari bantuan profesional seperti psikolog, psikiater, atau layanan kesehatan mental terdekat.

Peristiwa meninggalnya siswa sekolah dasar (SD) berusia 12 tahun di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, menyisakan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar di tengah masyarakat.

Perhatian publik sendiri semakin menguat setelah muncul informasi bahwa korban sempat mengunggah tangkapan layar percakapan WhatsApp dengan ibunya beberapa hari sebelum peristiwa tragis tersebut terjadi.

Kasat Reskrim Polres Demak, Anggah Mardwi Pitriyono, membenarkan adanya unggahan tersebut.

Ia menyampaikan, korban sempat membagikan tangkapan layar percakapan itu beberapa hari sebelum peristiwa tragis terjadi.

“Screenshot chat dari ibu ke korban lalu diunggah oleh korban di WhatsApp beberapa hari sebelum peristiwa terjadi," kata Anggah.

Unggahan tersebut kemudian beredar luas di media sosial dan memicu beragam spekulasi di tengah masyarakat terkait kondisi psikologis korban menjelang kematiannya.

Lantas, seperti apa isi chat terakhir anak SD yang diduga gantung diri dengan ibunya? Berikut fakta di balik insiden.

Baca Juga: Link Video Teh Pucuk 17 Menit Viral, Benarkah Libatkan Mahasiswi KKN di NTB? Ini Fakta yang Terungkap

Kronologi Penemuan Korban

Anggah menjelaskan, peristiwa tersebut pertama kali diketahui oleh ibu korban sendiri.

Berdasarkan hasil pemeriksaan rekaman kamera pengawas (CCTV), diketahui bahwa ibu korban tiba di rumah pada sore hari.

Tak berselang lama setelah masuk ke dalam rumah, ibu korban mendapati anaknya sudah dalam kondisi tergantung.

Dalam keadaan panik dan histeris, sang ibu langsung keluar rumah untuk meminta pertolongan warga sekitar.

Rentang waktu yang sangat singkat antara kedatangan ibu korban dan teriakan minta tolong tersebut menjadi salah satu poin penting dalam penyelidikan kepolisian.

Berdasarkan hasil visum dan pemeriksaan forensik, ditemukan adanya tanda-tanda khas kematian akibat gantung diri.

Anggah memaparkan, pada tubuh korban terdapat luka akibat kekerasan tumpul berupa jejas atau lecet gantung pada bagian leher.

"Ada luka akibat kekerasan tumpul berupa jejas atau lecet gantung pada leher. Didapatkan tanda mati lemas. Waktu kematian 2-6 jam sebelum pemeriksaan visum dilakukan," beber Anggah.

Pihak kepolisian menerima laporan resmi terkait kejadian tersebut sekitar pukul 21.30 WIB.

Setelah itu, petugas langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta pendalaman lanjutan guna memastikan tidak adanya unsur pidana lain.

Dari hasil penyelidikan menyeluruh, termasuk analisis forensik dan rekaman CCTV, kepolisian memastikan tidak terdapat indikasi pembunuhan dalam kasus ini.

Anggah menegaskan secara logis, waktu yang tersedia tidak memungkinkan adanya tindakan kekerasan yang dilakukan oleh ibu korban.

"Dari hasil pemeriksaan dokter forensik tadi, kemudian kita lihat rekaman CCTV yang menunjukkan ibu korban masuk ke rumah jam 18.01 WIB dan keluar jam 18.03 WIB sambil histeris untuk meminta tolong ke tetangga sebelah. Dengan rentang waktu sekitar 1,5 - 2 menit, tidak memungkinkan indikasi ibu korban melakukan pembunuhan," ungkap dia.

Meski demikian, Anggah tidak menampik bahwa berdasarkan pemeriksaan awal, ibu korban memang sempat beberapa kali mengirim pesan bernada marah dan mengandung kata-kata kasar kepada korban.

Namun, ia menegaskan, penyebab tindakan korban tidak bisa disimpulkan hanya dari percakapan tersebut.

Polisi menyatakan masih terus mendalami faktor-faktor lain, termasuk kondisi psikologis korban, lingkungan keluarga, serta kemungkinan tekanan sosial yang dialami korban sebelum peristiwa terjadi.

Baca Juga: Link Video Teh Pucuk 17 Menit Viral, Ini Klarifikasi Mahasiswi Unram

Isi chat siswa sekolah dasar (SD) berusia 12 tahun di Kabupaten Demak, Jawa Tengah dengan ibunya yang diduga bunuh diri. (Sumber: Instagram/@berita_gosip)

Apa Isi Chat Terakhir Korban dengan Ibunya?

Dalam tangkapan layar percakapan antara SA dan ibunya yang beredar luas di media sosial, salah satunya dibagikan oleh akun Instagram @berita_gosip, terlihat adanya kata-kata bernada ancaman.

Dalam percakapan tersebut, ibu korban tampak meminta anaknya untuk segera mengangkat telepon dan pulang ke rumah.

"Liat aja. Kamu pulang. Kalo nggak kamu angkat. Mama mau ngomong sama Pak R**. Angkat apa nggak?" tulis ibu SA dalam pesan tersebut seperti dikutip pada Senin, 16 Februari 2026.

Lebih lanjut, pesan tersebut diikuti dengan kalimat bernada lebih keras kepada anaknya.

"Breng*** kamu. Kalo nggak kamu angkat, kamarmu tak obrak-abrik. Angkat apa nggak? Tak bunuh kamu," lanjut dia.

Kepolisian menegaskan, meskipun percakapan tersebut menjadi bagian dari penyelidikan, penentuan penyebab pasti dari tindakan korban masih memerlukan pendalaman lebih lanjut dengan melibatkan berbagai aspek.


Berita Terkait


News Update