Anak Harus Puasa Sejak Umur Berapa? Ustadz Adi Hidayat Ungkap Batas Idealnya

Selasa 10 Feb 2026, 14:25 WIB
Ilustrasi -  Batas ideal usia anak mulai berpuasa menurut  Ustadz Adi Hidayat. (Sumber: Freepik)

Ilustrasi - Batas ideal usia anak mulai berpuasa menurut Ustadz Adi Hidayat. (Sumber: Freepik)

POSKOTA.CO.ID - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 2026, para orang tua mulai mencari informasi mengenai usia ideal anak untuk mulai menjalankan puasa.

Tidak sedikit yang beranggapan, anak harus dikenalkan puasa sejak dini agar terbiasa.

Dalam ajaran Islam, puasa Ramadhan merupakan ibadah wajib bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat, salah satunya adalah baligh.

Namun, batasan baligh itu sendiri tidak selalu dipahami secara utuh oleh masyarakat.

Wakil Ketua I Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2022–2027 Ustadz Adi Hidayat, memberikan penjelasan mengenai bagaimana Islam memandang puasa bagi anak-anak.

Melalui penjelasannya, Ustadz Adi Hidayat menguraikan batas ideal usia anak mulai berpuasa seperti dikutip melalui kanal YouTube Adi Hidayat Official, pada Selasa, 10 Februari 2026.

Baca Juga: Jangan Terlewat, Ini Amalan Utama 10 Hari Jelang Puasa Ramadhan 2026 ala Ustaz Adi Hidayat

Anak Harus Puasa Sejak Umur Berapa?

Menurut Ustadz Adi Hidayat, puasa bagi anak tidak bisa disamakan dengan kewajiban puasa orang dewasa.

Islam, kata dia, menempatkan puasa anak dalam konteks latihan (tarbiyah), bukan kewajiban yang bersifat memaksa.

Ustadz Adi Hidayat menjelaskan, kewajiban puasa dalam Islam baru berlaku ketika seseorang telah mencapai usia baligh.

Selama anak belum baligh, puasa belum menjadi kewajiban syariat yang mengikat.

Baligh sendiri memiliki indikator yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Pada anak perempuan, baligh ditandai dengan datangnya haid. Sementara pada anak laki-laki, baligh ditandai dengan mimpi basah atau tanda-tanda kematangan biologis lainnya.

Usia baligh pun tidak seragam, bisa terjadi pada usia 13 tahun, 14 tahun, 15 tahun, atau bahkan lebih awal maupun lebih lambat.

Karena itu, menurutnya, fase sebelum baligh justru menjadi momentum terbaik untuk belajar puasa, bukan menunggu hingga anak sudah wajib lalu “dipaksa” menyesuaikan diri secara mendadak.

Lebih lanjut, menjawab pertanyaan usia ideal, Ustadz Adi Hidayat menegaskan, tidak ada angka baku yang berlaku sama untuk semua anak.

Baca Juga: Romi Jahat Sakit Apa? Ini Fakta Terakhir Sebelum Vokalis RTJ Meninggal Dunia

Ukurannya bukan semata usia, melainkan kemampuan fisik dan kesiapan anak.

Dalam praktiknya, banyak anak yang mulai dikenalkan puasa sejak usia 4, 5, atau 6 tahun. Namun, puasa pada usia tersebut bukan berarti harus menahan lapar dan haus hingga waktu Magrib.

“Latihan puasa itu tidak harus penuh,” tegas dia dalam kajian tersebut.

Anak boleh dilatih menahan puasa dari Subuh hingga pukul 10.00 atau 11.00 siang. Jika sudah tidak kuat, anak diperbolehkan berbuka tanpa rasa bersalah.

Pihaknya mengingatkan, agar orang tua tidak keliru dalam memahami konsep latihan puasa.

Menurut dia, memaksa anak berpuasa penuh hingga Magrib justru berisiko merusak semangat ibadah anak di kemudian hari.

Ia mencontohkan, ketika seorang anak mampu bertahan puasa hingga pukul 11.00, orang tua seharusnya memberi apresiasi dan pujian.

Dengan begitu, secara alami tubuh anak akan beradaptasi, dan keesokan harinya kemampuan menahan lapar bisa bertambah.

Pendekatan bertahap ini dinilai sejalan dengan prinsip Islam yang tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya.

Dalam penjelasannya, Ustadz Adi Hidayat mengutip kaidah umum dalam Islam bahwa Allah tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan.

Prinsip ini berlaku pula dalam mendidik anak untuk beribadah, termasuk puasa.

Dia juga menegaskan, puasa anak seharusnya menjadi pengalaman yang menyenangkan, membangun rasa cinta terhadap ibadah, bukan menimbulkan trauma fisik maupun psikologis.


Berita Terkait


News Update