Ia mencontohkan, ketika seorang anak mampu bertahan puasa hingga pukul 11.00, orang tua seharusnya memberi apresiasi dan pujian.
Dengan begitu, secara alami tubuh anak akan beradaptasi, dan keesokan harinya kemampuan menahan lapar bisa bertambah.
Pendekatan bertahap ini dinilai sejalan dengan prinsip Islam yang tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya.
Dalam penjelasannya, Ustadz Adi Hidayat mengutip kaidah umum dalam Islam bahwa Allah tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan.
Prinsip ini berlaku pula dalam mendidik anak untuk beribadah, termasuk puasa.
Dia juga menegaskan, puasa anak seharusnya menjadi pengalaman yang menyenangkan, membangun rasa cinta terhadap ibadah, bukan menimbulkan trauma fisik maupun psikologis.
