POSKOTA.CO.ID - Di tengah kota-kota besar yang kian menyesakkan, mimpi tentang rumah layak kini terasa seperti kemewahan. Pemerintah berupaya menjawabnya lewat berbagai program, termasuk skema rumah susun subsidi, sebuah terobosan untuk mengubah paradigma lama bahwa rumah harus berdiri di atas tanah sendiri. Kini, hunian vertikal dipromosikan sebagai solusi masa depan.
Namun, di balik janji efisiensi dan pemerataan akses, muncul pertanyaan yang lebih mendasar, apakah Indonesia benar-benar siap menjalankan skema rusun subsidi secara berkelanjutan dan manusiawi?
Program rumah susun subsidi memang terdengar menjanjikan di atas kertas. Pemerintah menyebutnya sebagai langkah strategis untuk mengatasi keterbatasan lahan dan tingginya harga rumah tapak di wilayah perkotaan. Dengan pertumbuhan urbanisasi yang mencapai lebih dari 56 persen penduduk tinggal di kota, tekanan terhadap ruang semakin tinggi (BPS, 2025).
Di sinilah rusun diharapkan menjadi solusi: efisien dalam ruang, terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), dan sesuai arah pembangunan berkelanjutan.
Namun, pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa membangun hunian vertikal tidak sama dengan membangun kehidupan vertikal. Banyak rumah susun di Indonesia berakhir menjadi sekadar tumpukan beton tanpa kehidupan sosial yang sehat. Beberapa rusun bahkan ditinggalkan penghuninya karena fasilitas tak memadai, biaya pemeliharaan tinggi, dan akses transportasi yang jauh dari tempat kerja (Katadata Insight Center, 2022).
Ironisnya, rusun yang dibangun dengan dalih subsidi justru kerap menjadi beban baru bagi penghuni berpenghasilan rendah.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait tampaknya menyadari hal itu. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin program rusun subsidi sekadar menjadi proyek pembangunan tanpa arah sosial.
“Kami ingin memastikan rusun subsidi bukan hanya tentang jumlah unit, tetapi tentang kualitas hidup penghuninya,” ujar Maruarar saat meninjau kawasan Meikarta, Bekasi, yang diproyeksikan menjadi lokasi rusun bersubsidi.
Baca Juga: Profil Putri Intan Kasela: Usia, Orang Tua, dan Perannya sebagai Rusmiati di Film Kuyank 2026
Dalam kesempatan lain, ia juga menekankan pentingnya memastikan lokasi strategis dan keterjangkauan akses publik, agar rusun benar-benar bisa menjadi tempat tinggal layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
