Siswa SD Bunuh Diri Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Data BPS: Jumlah Penduduk Miskin NTT Menurun

Kamis 05 Feb 2026, 15:48 WIB
Ilustrasi. Siswa SD di NTT bunuh diri (Freepik/Freepik)

Ilustrasi. Siswa SD di NTT bunuh diri (Freepik/Freepik)

POSKOTA.CO.ID - Beberapa waktu terakhir, masyarakat dihebohkan berita siswa SD bunuh diri di NTT akibat tak mampu beli buku dan pena. Hal ini menimbulkan sorotan terkait dengan tingkat kemiskinan di daerah tersebut.

Salah satu tokoh, Rocky Gerung mengatakan, kasus ini menjadi tragis, dimana bukan hanya masalah kemiskinan yang menjadi penyebabnya, melainkan juga kegagalan pemerintah dalam mengelola negara.

“Negara sejak awal tahu daerah-daerah seperti NTT tidak punya kemampuan ekonomi untuk menopang dirinya sendiri,” ujar Rocky melalui kanal YouTube Rocky Gerung Official, dikutip Kamis, 5 Februari 2026.

Rocky juga menyinggung kebijakan pemerintah yang mengalihkan anggaran pendidikan untuk membiayai program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menyebut program tersebut bersifat populis dan tidak mempertimbangkan kebutuhan esensial masyarakat.

Baca Juga: Link Video Viral Cukur Kumis Bikin Heboh, Benarkah Ada Versi Full hingga Puluhan Menit? Ini Faktanya

“Semua itu ada konsekuensi dari kebijakan di pusat. Kita mau lihat itu sebagai hasil negative impression dari prestasi-prestasi pemerintahan ini,” tambah Rocky.

Meski begitu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2025, sebenarnya tingkat kemiskinan di daerah NTT terus menurun.

Jumlah Penduduk Miskin NTT Menyusut dalam Dua Periode Terakhir

Ilustrasi. Jumlah penduduk miskin (Sumber: Pinterest/Cory Helwig)

Persentase penduduk miskin pada September 2025 sebesar 17,50 persen, menurun 1,10 persenpoin terhadap Maret 2025 dan menurun 1,52 persenpoin terhadap September 2024

Persentase penduduk miskin di NTT pada September 2025 tercatat sebesar 17,50 persen. Angka ini mengalami penurunan 1,10 persen poin dibandingkan Maret 2025, serta turun 1,52 persen poin dibandingkan September 2024.

Secara jumlah, penduduk miskin pada September 2025 tercatat sebanyak 1,03 juta orang. Jumlah tersebut berkurang 57,09 ribu orang dibandingkan Maret 2025 dan turun 76,24 ribu orang dibandingkan September 2024.

Jika dilihat berdasarkan wilayah, tingkat kemiskinan di perkotaan pada September 2025 berada di angka 6,96 persen, menurun dari 7,68 persen pada Maret 2025. Sementara itu, persentase penduduk miskin di perdesaan tercatat 21,48 persen, turun dari 22,66 persen pada periode sebelumnya.

Baca Juga: Viral! Video Anies Ajak Foto Bareng Intel yang Diduga Anggota Kodim IV/Diponegoro, Cek Faktanya

Kemiskinan Perdesaan Masih Dominan Meski Alami Penurunan

Penurunan juga terjadi pada jumlah penduduk miskin di kedua wilayah. Di perkotaan, jumlah penduduk miskin berkurang 9,31 ribu orang, dari 121,85 ribu orang pada Maret 2025 menjadi 112,54 ribu orang pada September 2025.

Sementara di perdesaan, penurunan mencapai 47,78 ribu orang, dari 966,93 ribu orang menjadi 919,15 ribu orang.

Dari sisi ekonomi, Garis Kemiskinan September 2025 tercatat sebesar Rp563.052 per kapita per bulan. Nilai ini terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp425.350 (75,54 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp137.702 (24,46 persen).

Selain itu, rata-rata rumah tangga miskin di Provinsi NTT memiliki 5,88 anggota rumah tangga. Dengan kondisi tersebut, rata-rata Garis Kemiskinan per rumah tangga mencapai Rp3.310.746 per bulan.

Baca Juga: Meski Beda Partai Koalisi, Prabowo Dukung Pramono Pimpin Jakarta

Capaian ini menjadi indikator penting bagi pemerintah daerah untuk terus memperkuat kebijakan pengentasan kemiskinan yang lebih tepat sasaran, terutama di wilayah perdesaan yang masih mencatat angka kemiskinan relatif tinggi.

Keadaan Ketenagakerjaan Nusa Tenggara Timur

Melansir data BPS pada Kamis, 5 Februari 2026. Jumlah angkatan kerja Indonesia terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) November 2025, total angkatan kerja tercatat sebanyak 3,11 juta orang.

Angka ini mengalami kenaikan sekitar 0,02 juta orang dibandingkan periode Agustus 2025.

Peningkatan jumlah angkatan kerja tersebut turut diiringi oleh membaiknya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Pada November 2025, TPAK mencapai 75,65 persen atau naik 0,10 persen poin dibandingkan Agustus 2025.

Kondisi ini mencerminkan semakin banyak penduduk usia kerja yang aktif dalam kegiatan ekonomi.

Baca Juga: Libur Imlek Februari 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal dan Cuti Bersama untuk Nikmati Long Weekend

Dari sisi ketenagakerjaan, jumlah penduduk bekerja pada November 2025 mencapai 3,01 juta orang, meningkat 0,02 juta orang dibandingkan Agustus 2025.

Lapangan usaha yang menyerap tenaga kerja paling banyak berasal dari sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dengan tambahan sekitar 0,02 juta orang pekerja.

Selain itu, jumlah penduduk yang bekerja di sektor formal juga mengalami kenaikan. Pada November 2025, penduduk bekerja pada kegiatan formal tercatat sebanyak 0,96 juta orang atau setara 31,74 persen dari total penduduk bekerja.

Angka ini naik 0,18 persen poin dibandingkan Agustus 2025, menandakan pergeseran ke arah pekerjaan yang lebih stabil.

Perbaikan kondisi pasar kerja juga tercermin dari menurunnya tingkat setengah pengangguran dan pekerja paruh waktu.

Tingkat setengah pengangguran tercatat sebesar 10,91 persen atau turun 0,53 persen poin, sementara tingkat pekerja paruh waktu turun cukup signifikan menjadi 33,22 persen atau berkurang 2,73 persen poin.

Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada November 2025 tercatat sebesar 3,10 persen.

Angka ini menurun 0,21 persen poin dibandingkan Agustus 2025, menunjukkan adanya perbaikan daya serap tenaga kerja di berbagai sektor ekonomi nasional.


Berita Terkait


News Update