Baca Juga: Viral! Video Anies Ajak Foto Bareng Intel yang Diduga Anggota Kodim IV/Diponegoro, Cek Faktanya
Kemiskinan Perdesaan Masih Dominan Meski Alami Penurunan
Penurunan juga terjadi pada jumlah penduduk miskin di kedua wilayah. Di perkotaan, jumlah penduduk miskin berkurang 9,31 ribu orang, dari 121,85 ribu orang pada Maret 2025 menjadi 112,54 ribu orang pada September 2025.
Sementara di perdesaan, penurunan mencapai 47,78 ribu orang, dari 966,93 ribu orang menjadi 919,15 ribu orang.
Dari sisi ekonomi, Garis Kemiskinan September 2025 tercatat sebesar Rp563.052 per kapita per bulan. Nilai ini terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp425.350 (75,54 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp137.702 (24,46 persen).
Selain itu, rata-rata rumah tangga miskin di Provinsi NTT memiliki 5,88 anggota rumah tangga. Dengan kondisi tersebut, rata-rata Garis Kemiskinan per rumah tangga mencapai Rp3.310.746 per bulan.
Baca Juga: Meski Beda Partai Koalisi, Prabowo Dukung Pramono Pimpin Jakarta
Capaian ini menjadi indikator penting bagi pemerintah daerah untuk terus memperkuat kebijakan pengentasan kemiskinan yang lebih tepat sasaran, terutama di wilayah perdesaan yang masih mencatat angka kemiskinan relatif tinggi.
Keadaan Ketenagakerjaan Nusa Tenggara Timur
Melansir data BPS pada Kamis, 5 Februari 2026. Jumlah angkatan kerja Indonesia terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) November 2025, total angkatan kerja tercatat sebanyak 3,11 juta orang.
Angka ini mengalami kenaikan sekitar 0,02 juta orang dibandingkan periode Agustus 2025.
Peningkatan jumlah angkatan kerja tersebut turut diiringi oleh membaiknya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Pada November 2025, TPAK mencapai 75,65 persen atau naik 0,10 persen poin dibandingkan Agustus 2025.
Kondisi ini mencerminkan semakin banyak penduduk usia kerja yang aktif dalam kegiatan ekonomi.
Baca Juga: Libur Imlek Februari 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal dan Cuti Bersama untuk Nikmati Long Weekend
