POSKOTA.CO.ID - Beberapa waktu terakhir, masyarakat dihebohkan berita siswa SD bunuh diri di NTT akibat tak mampu beli buku dan pena. Hal ini menimbulkan sorotan terkait dengan tingkat kemiskinan di daerah tersebut.
Salah satu tokoh, Rocky Gerung mengatakan, kasus ini menjadi tragis, dimana bukan hanya masalah kemiskinan yang menjadi penyebabnya, melainkan juga kegagalan pemerintah dalam mengelola negara.
“Negara sejak awal tahu daerah-daerah seperti NTT tidak punya kemampuan ekonomi untuk menopang dirinya sendiri,” ujar Rocky melalui kanal YouTube Rocky Gerung Official, dikutip Kamis, 5 Februari 2026.
Rocky juga menyinggung kebijakan pemerintah yang mengalihkan anggaran pendidikan untuk membiayai program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menyebut program tersebut bersifat populis dan tidak mempertimbangkan kebutuhan esensial masyarakat.
Baca Juga: Link Video Viral Cukur Kumis Bikin Heboh, Benarkah Ada Versi Full hingga Puluhan Menit? Ini Faktanya
“Semua itu ada konsekuensi dari kebijakan di pusat. Kita mau lihat itu sebagai hasil negative impression dari prestasi-prestasi pemerintahan ini,” tambah Rocky.
Meski begitu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2025, sebenarnya tingkat kemiskinan di daerah NTT terus menurun.
Jumlah Penduduk Miskin NTT Menyusut dalam Dua Periode Terakhir

Persentase penduduk miskin pada September 2025 sebesar 17,50 persen, menurun 1,10 persenpoin terhadap Maret 2025 dan menurun 1,52 persenpoin terhadap September 2024
Persentase penduduk miskin di NTT pada September 2025 tercatat sebesar 17,50 persen. Angka ini mengalami penurunan 1,10 persen poin dibandingkan Maret 2025, serta turun 1,52 persen poin dibandingkan September 2024.
Secara jumlah, penduduk miskin pada September 2025 tercatat sebanyak 1,03 juta orang. Jumlah tersebut berkurang 57,09 ribu orang dibandingkan Maret 2025 dan turun 76,24 ribu orang dibandingkan September 2024.
Jika dilihat berdasarkan wilayah, tingkat kemiskinan di perkotaan pada September 2025 berada di angka 6,96 persen, menurun dari 7,68 persen pada Maret 2025. Sementara itu, persentase penduduk miskin di perdesaan tercatat 21,48 persen, turun dari 22,66 persen pada periode sebelumnya.
