“Gejala saja tidak cukup. Harus dikaitkan dengan riwayat paparan. Jangan sampai menimbulkan judgement, seolah semua flu itu nipah,” katanya.
Baca Juga: Waspada! Virus Nipah Ditularkan dari Kelelawar dan Babi, Ini Dia Cara Mencegahnya
Ia menjelaskan fase lanjut bisa berkembang menjadi ensefalitis atau radang otak dengan gejala mengantuk berlebihan, kebingungan, penurunan kesadaran, bicara pelo, kejang, hingga sesak napas. Karena itu, tanda bahaya harus segera ditangani di rumah sakit.
“Kalau ada demam tinggi dengan penurunan kesadaran cepat atau kejang, apapun dugaannya harus segera ke rumah sakit,” ujarnya.
Sebagai pencegahan, Dicky menekankan pentingnya perilaku hidup bersih dan menghindari jalur paparan dari hewan ke manusia.
Ia mengimbau masyarakat rutin mencuci tangan, menghindari konsumsi buah yang diduga terkontaminasi gigitan hewan, serta tidak mengonsumsi minuman nira mentah tanpa pasteurisasi.
“Kuncinya di perilaku. Cuci tangan, hindari pangan berisiko, jangan kontak dengan hewan liar atau sakit, dan pakai masker saat merawat orang sakit demam,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah dan fasilitas kesehatan dalam deteksi dini dan kesiapsiagaan sistem.
“Efektivitas terbesar ada di deteksi dini ensefalitis akut yang tidak diketahui sebabnya, kesiapsiagaan rumah sakit, surveilans hewan dan lingkungan, serta komunikasi risiko berbasis sains agar tidak menimbulkan kepanikan,” pungkasnya. (cr-4)
