10 Alasan Mengapa Paylater Bisa Membuat Kamu Miskin Perlahan

Selasa 03 Feb 2026, 16:15 WIB
Penggunaan paylater meningkat tajam dalam empat tahun terakhir, memicu kekhawatiran terhadap kesehatan finansial generasi muda. (Sumber: Poskota/Yusuf Sidiq)

Penggunaan paylater meningkat tajam dalam empat tahun terakhir, memicu kekhawatiran terhadap kesehatan finansial generasi muda. (Sumber: Poskota/Yusuf Sidiq)

POSKOTA.CO.ID - Dalam beberapa tahun terakhir, layanan buy now pay later atau paylater melonjak pesat di Indonesia. Iklan “bayar nanti” muncul di hampir semua platform e-commerce dan layanan digital.

Kemudahan akses ini membuat jutaan pengguna merasa terbantu. Namun di balik kenyamanan tersebut, para ekonom memperingatkan bahwa paylater dapat menjadi “jerat halus” yang menciptakan ketergantungan konsumtif dan menggerus stabilitas finansial.

Melansir dari channel Youtube @Ruang Kaya, sebagaimana disampaikan dalam sebuah video edukasi finansial, “Paylater bukan penolong. Ia tampak membantu, tetapi membuat kamu miskin perlahan.” ujarnya

Berikut adalah 10 alasan mengapa paylater bisa membuat kamu miskin perlahan:

Baca Juga: Harga Emas Perhiasan Hari Ini 3 Februari 2026 Merosot, Momentum Tepat untuk Borong?

Mengapa Paylater Terlihat Membantu, tetapi Berbahaya?

1. Utang jadi Normalisasi

Di awal transaksi, paylater memberikan ilusi kelegaan. Tombol “Bayar Nanti” muncul tepat sebelum checkout desain yang disengaja untuk mengurangi gesekan keputusan (decision friction).

Menurut penjelasan video tersebut, “Aplikasi paylater sengaja dibuat agar kita merasa meminjam itu biasa saja, seolah tidak berisiko.”

Hal ini menjelaskan perilaku konsumen sebagai present bias, yaitu kecenderungan lebih fokus pada kenikmatan sesaat daripada konsekuensi masa depan.

2. Pemakaian Paylater Naik, Tabungan Menurun

Data industri menunjukkan bahwa pengguna paylater meningkat pesat, tetapi angka tabungan generasi muda justru melemah. Video memaparkan bahwa meningkatnya penggunaan paylater berkaitan dengan turunnya kemampuan menabung serta melonjaknya default atau gagal bayar.

Fenomena ini diperkuat laporan Bank Indonesia yang menunjukkan perilaku konsumsi digital mendominasi pengeluaran masyarakat muda.

3. Bukan Dana Darurat, Paylater Justru Membebani Masa Depan

Banyak pengguna menganggap paylater sebagai solusi mendadak ketika keuangan sedang ketat. Padahal struktur biaya layanan ini membuat beban semakin besar.


Berita Terkait


News Update