Waspada tanpa Panik, Ini Penjelasan Epidemiolog soal Ancaman Virus Nipah di Jakarta

Selasa 03 Feb 2026, 14:29 WIB
Ilustrasi virus nipah. (Sumber: Pixabay/Geralt)

Ilustrasi virus nipah. (Sumber: Pixabay/Geralt)

Untuk risiko penyebaran lokal di kota besar, Dicky menilai angkanya rendah karena reservoir alami virus nipah adalah kelelawar buah di wilayah semi-hutan atau peri-urban, bukan kawasan perkotaan padat. 

Selain itu, rantai penularan pada manusia cenderung pendek karena pasien cepat masuk fase berat.

“Rantai penularan pada manusia itu pendek. Belum sempat menular luas, pasien biasanya sudah masuk fase berat, gangguan napas atau infeksi otak,” katanya.

Baca Juga: Mati Listrik 7 Hari di Indonesia, Apakah Benar atau Hoaks? Ini Fakta Sebenarnya dan Penjelasan PLN

Penularan antarmanusia, juga membutuhkan kontak erat dengan cairan tubuh, sehingga tidak mudah menyebar luas.

Namun risiko bisa meningkat jika deteksi terlambat, terutama bila terjadi penularan di keluarga atau di rumah sakit.

“Risiko menyebar lokal bisa naik kalau deteksi kasus terlambat, sehingga menulari keluarga atau tenaga kesehatan. Infeksi nosokomial di rumah sakit bisa memperbesar klaster,” ujarnya.

Dicky menegaskan kota besar lebih berisiko menjadi lokasi kasus impor tunggal, bukan pusat wabah besar, selama sistem kesehatan responsif. 

Baca Juga: Waspada Virus Nipah! DPR Tegaskan Indonesia Berpotensi karena Adanya Kelelawar Buah

“Untuk Jakarta, Surabaya, Medan, itu lebih berisiko sebagai lokasi kasus impor tunggal, bukan episenter wabah besar, selama sistem kesehatan responsif,” tegasnya.

Terkait gejala, ia mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menghakimi setiap gejala flu sebagai nipah. 

Gejala awal umumnya tidak spesifik dan mirip flu berat, seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala hebat, nyeri otot, lemas ekstrem, mual, muntah, batuk, dan sakit tenggorokan ringan.


Berita Terkait


News Update