JAKARTA, POSKOTA.CO.ID – Epidemiolog sekaligus pengamat kesehatan Dicky Budiman menegaskan virus nipah secara ilmiah bukan jenis virus yang mudah menjadi pandemi, namun tetap sangat berbahaya jika lolos dari deteksi awal.
Karena itu, menurut dia pendekatan paling tepat untuk kota besar seperti Jakarta adalah membangun kewaspadaan rasional berbasis sains, bukan kepanikan.
“Secara ilmiah, nipah bukan virus yang mudah menjadi pandemi, tetapi sangat berbahaya bila terlewat deteksi awal. Karena itu pendekatan terbaik di kota besar adalah kewaspadaan rasional, bukan kepanikan,” ujar Dicky kepada Poskota, Selasa, 3 Februari 2026.
Dicky menjelaskan dalam epidemiologi wabah terdapat dua jenis risiko yang harus dibedakan, yakni risiko masuknya kasus ke suatu wilayah (risk of importation) dan risiko penyebaran lokal (risk of local transmission).
Baca Juga: Heboh Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Digosipkan Cerai, Asli Atau Hoax?
Menurutnya, risiko impor ke kota besar meningkat karena mobilitas internasional yang tinggi melalui bandara dan pelabuhan, serta arus perjalanan regional Asia Selatan dan Asia Tenggara yang aktif. Ditambah lagi, masa inkubasi virus nipah tergolong panjang.
“Virus Nipah punya masa inkubasi panjang, rata-rata sampai 14 hari, bahkan pada kasus jarang bisa sampai 30 hari. Artinya orang yang terinfeksi bisa masuk tanpa gejala,” kata Dicky.
Meski begitu, ia menekankan ada sejumlah faktor yang menurunkan risiko tersebut. Penularan antarmanusia tidak mudah terjadi dan virus ini tidak menyebar melalui udara seperti COVID 19 atau influenza.
Kemudian tercatat jumlah kasus global nipah hingga kini relatif jarang.
“Nipah itu tidak mudah menular antar manusia, bukan airborne seperti COVID-19. Kasus global juga relatif sangat jarang. Jadi risiko masuk ada, tapi rendah sampai sedang,” ujar dia.
