POSKOTA.CO.ID - SV League All-Star Game yang digelar di Kobe, Jepang, pada 1 Februari 2026 menyimpan satu momen yang mendadak viral di media sosial.
Dalam sesi skills challenge, bintang tim nasional voli Jepang, Yuji Nishida, tanpa sengaja mengenai seorang perempuan yang berdiri di sisi lapangan setelah servisnya melenceng dari target.
Video insiden itu pertama kali diunggah akun X @harulovesvolley, yang memperlihatkan reaksi cepat Nishida sesaat setelah bola menghantam staf lapangan tersebut. “Nishida langsung panik dan menghampiri staf itu begitu menyadari bolanya meleset,” tulis akun tersebut dalam unggahan videonya.
Baca Juga: Jadwal Timnas Futsal Indonesia di Babak Perempat Final Piala Asia Futsal 2026
Lakukan Dogeza, Nishida Tuai Pujian atas Sikap Rendah Hatinya
Alih-alih memperlakukan insiden itu sebagai hal biasa seperti yang kerap terjadi dalam pertandingan olahraga profesional, Nishida menunjukkan sikap yang jarang terlihat dari seorang atlet bintang. Ia berlari cepat mendekati perempuan itu, kemudian melakukan dogeza gestur berlutut di lantai dengan dahi menyentuh permukaan sebagai bentuk permintaan maaf paling ekstrem dalam budaya Jepang.
“Saya benar-benar tidak bermaksud mengenainya. Refleks saja, tubuh saya langsung bergerak untuk memastikan ia baik-baik saja,” ujar Nishida dalam video lanjutan yang beredar di komunitas penggemar voli Jepang.

Gestur itu langsung menuai pujian karena menunjukkan tingkat penghormatan dan penyesalan yang mendalam. Sikap Nishida dinilai genuine dan jauh dari kesan dibuat-buat.
Seorang staf lapangan yang berada di dekat lokasi kejadian bahkan terlihat tertawa kecil sambil menepuk pundak Nishida, memastikan bahwa situasi baik-baik saja. Interaksi itu berakhir dengan saling mengangguk, menandakan adanya mutual understanding di tengah lapangan.
Budaya Dogeza dan Reputasi Nishida sebagai Atlet Berintegritas
Dalam budaya Jepang, dogeza bukan sekadar gestur membungkuk biasa. Ia merupakan simbol kerendahan hati, penyesalan, sekaligus penghormatan tertinggi. Tindakan Nishida langsung dianggap sebagai bentuk ketulusan, bukan sekadar formalitas.
Pengamat budaya olahraga Jepang, Hiroshi Takamine, menyebut momen itu sebagai contoh nyata etika atlet Jepang.
