“Yang kami minta jelas, kalau memang uji coba berkali-kali belum berhasil dan masih berdampak, berarti patut diduga ada pelanggaran hukum serius dari pabrik tersebut. Warga sudah lelah, sudah marah, sudah menangis karena merasa tidak didengar,” ungkapnya.
Di klaster tempat tinggalnya, Nadine memperkirakan lebih dari 200 kepala keluarga terdampak, dan jika dihitung seluruh klaster jumlahnya bisa mencapai ribuan keluarga. Ia juga mempertanyakan perizinan serta kajian lingkungan proyek RDF, termasuk dokumen Amdal yang disebut tidak pernah disosialisasikan kepada warga sekitar.
“Kalau dari awal tahu akan ada pabrik pengolahan sampah di dekat sini, mungkin saya tidak akan tinggal di sini. Harusnya ada transparansi dan pelibatan masyarakat sebelum pabrik didirikan,” kata Nadine.
Meski memahami keterbatasan kapasitas TPST Bantargebang, Nadine menegaskan proyek pengolahan sampah harus melalui kajian matang dan pengawasan ketat karena mencampur sampah organik dan anorganik. Ia bersama warga berharap operasional RDF dihentikan permanen lantaran persoalan teknis, dampak lingkungan, dan risiko kesehatan yang sejak awal tidak terjamin keamanannya.
"Warga butuh kepastian dan perlindungan hukum dan tidak mau jd kelinci percobaan,” ujarnya.
Baca Juga: Viral Aksi Pencurian Rumah Kosong, Polisi Tangkap Pelaku dan Penadah di Tajurhalang
Sementara itu, warga Karang Tengah, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Hamas, 23 tahun turut terdampak bau menyengat dari aktivitas RDF Plant Rorotan tersebut. Ia menyebut, sebelum fasilitas pengolahan sampah tersebut beroperasi, lingkungan tempat tinggalnya tidak pernah mengalami gangguan bau seperti sekarang.
Hamas, yang telah lama bermukim di wilayah Pusaka Rakyat, Karang Tengah mengatakan, jarak rumahnya dengan lokasi RDF sekitar satu kilometer. Meski berbeda wilayah administrasi, ia mengklaim dampak bau tetap dirasakan hampir setiap hari oleh warga sekitar.
“Kalau dulu sebelum ada RDF enggak ada bau seperti ini. Sekarang hampir setiap hari kami mencium bau. Radius rumah saya ke RDF kurang lebih satu kilometer,” ujar Hamas.
Menurut dia, jumlah pasti warga terdampak memang tidak terdata secara rinci, namun ia memperkirakan hampir seluruh warga di radius sekitar merasakan hal serupa karena sebaran bau mengikuti arah angin.
"Hampir semuanya kena dampak," ucap Hamas.
Ia juga mengaku sempat mengalami keluhan kesehatan setelah mendatangi area sekitar RDF pada malam hari saat bau tercium kuat. Keluhan yang dirasakan antara lain mata perih dan merah, pusing, mual, iritasi kulit, hingga rasa tidak nyaman di tenggorokan.
