“Di awal-awal uji coba itu keluar emisi berupa asap, bau, dan abu yang menyesakkan. Banyak warga jatuh sakit sampai dengan hari ini. kami takut lama2 bisa terkena kanker,” ujar Nadine kepada Poskota, Minggu, 1 Februari 2026.
Ia mengatakan, uji coba RDF disebut telah dilakukan beberapa kali, namun dampak bau dan emisi masih dirasakan warga di sejumlah klaster perumahan. Hal itu yang kemudian memicu kekecewaan, karena menurutnya operasional tetap berjalan meski dinilai belum memenuhi standar sesuai peraturan hukum yang berlaku.
“Kalau uji coba gagal harusnya diperbaiki dulu, bukan langsung gas terus beroperasi. Di luar negeri boro-boro beroperasi as usual, izin aja pasti tidak dikeluarkan. Kami sudah kena dampaknya, sudah ada anak-anak, balita, lansia yang diperiksa karena berbagai keluhan kesehatan oleh Dinas Kesehatan, tapi RDF tetap jalan,” ucap Nadine.
Baca Juga: Pemkab Bogor Bangun Pasar Garuda Tani Sediakan 150 Lapak Pertanian Buah hingga Tanaman Hias
Menurut Nadine, bau tidak sedap tidak muncul pada waktu tertentu saja, melainkan bergantung arah angin. Namun ia menyebut paling sering tercium pada pagi dan sore hari, meski kadang juga muncul siang hingga malam.
“Kalau angin mengarah ke perumahan, baunya terasa saat buka pintu atau jendela. Kadang subuh juga ada. yang pasti hampir setiap hari bau busuk dan asam,” ucapnya.
Ia memperkirakan jarak RDF dengan permukiman berada di kisaran 500 hingga 800 meter. Pada masa awal uji coba, kata dia, dampak emisi/buangan limbah terutama bau disebut terasa hingga beberapa kilometer dan dirasakan tidak hanya di Jakarta Timur dan Jakarta Utara, tetapi juga sampai wilayah Bekasi.
Terkait dampak kesehatan, Nadine mengaku dirinya mengalami gangguan pernapasan. Ia juga menyebut sejumlah anak di lingkungan perumahan mengalami keluhan iritasi mata dan gangguan saluran napas. Warga, lanjut dia, sempat mendapat pemeriksaan dari Dinas Kesehatan.
Baca Juga: Ketua Golkar DKI Ahmed Zaki: Masyarakat Wajib Melek Politik agar Paham Kinerja Pemerintah
Nadine juga menyoroti alat pemantau kualitas udara yang dipasang di sekitar lokasi RDF. Menurutnya, alat tersebut sempat tidak berfungsi sejak awal Januari. Saat ditanyakan, ia mendapat penjelasan bahwa alat sedang menjalani uji kolokasi atau kalibrasi.
“Alat indikator kualitas udara itu mati. Katanya sedang uji kolokasi. Jadi saat ada kunjungan pejabat, data kualitas udara secara realtime tidak bisa dilihat langsung di lokasi,” ungkap Nadine.
Ia juga mengaku kecewa terhadap respons pemerintah sebagai regulator karena merasa belum mendapatkan solusi tegas. Nadine mengatakan, dirinya sudah beberapa kali bertemu pejabat termasuk Gubernur Jakarta terkait untuk menyampaikan keluhan warga, namun hasilnya dinilai belum memberi kepastian hukum.
