JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Sejumlah warga sekitar Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan memprotes kembali terkait bau menyengat yang berasal dari aktivitas pengolahan dan pengangkutan sampah tersebut.
Merespon hal itu, Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Ali Lubis menyampaikan proyek sekitar Rp1,3 triliun yang diklaim sebagai solusi pengelolaan sampah justru menghadirkan berbagai persoalan serius bagi masyarakat.
"Situasi ini memperkuat dugaan bahwa RDF Rorotan dibangun dengan perencanaan yang asal-asalan dan kajian AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) yang tidak transparan," ucap Ali kepada Poskota Minggu, 1 Februari 2026.
Ali menegaskan, seharusnya proyek RDF senilai triliunan rupiah itu seharusnya menjamin perencanaan yang matang, teknologi yang siap, serta mitigasi dampak lingkungan dan sosial yang komprehensif.
Baca Juga: Target Panen Beras 846 Ton, DKP Kota Tangerang Dukung Ratusan Kelompok Tani
"Namun realitas di lapangan menunjukkan kegagalan mendasar. Keluhan bau menyengat, keresahan warga, dan potensi gangguan kesehatan masih terus terjadi, menandakan bahwa proyek ini dipaksakan tanpa kesiapan yang layak," ujar Ali.
Lebih lanjut, Ali mengatakan bahwa masalah tersebut tidak bisa dilepaskan dari buruknya tahap perencanaan. Termasuk pemilihan lokasi, kesiapan teknologi, kapasitas pengolahan, hingga dampak terhadap lingkungan permukiman warga sekitar diduga tidak dikaji secara serius sejak awal.
"Proyek strategis dengan anggaran besar tidak seharusnya dijalankan dengan pendekatan coba-coba," kata Ali.
Selain itu, Ali turut menyoroti terkait AMDAL yang hingga kini dinilai tidak transparan. Menurut dia, AMDAL seharusnya menjadi alat perlindungan warga, bukan sekadar dokumen administratif.
Baca Juga: Polda Metro Jaya Pastikan Video Dugaan Pungli di Cideng Merupakan Rekaman Lama
"Namun substansi AMDAL RDF Rorotan, terutama terkait dampak bau, kesehatan masyarakat, dan operasional truk angkutan sampah, tidak pernah dibuka secara jelas kepada publik," ungkap Ali.
