JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Setahun sudah uji coba fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan berlangsung, namun kini memunculkan masalah bau yang dikeluhkan warga.
RDF Rorotan merupakan fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif yang berlokasi di Rorotan, Jakarta Utara, dan dikelola Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta. Bahan bakar alternatif hasil olahan sampah kering ini biasanya digunakan untuk industri, seperti pabrik semen.
Pembangunan proyek RDF Rorotan dimulai pada Maret 2024, Kurang dari setahun setelahnya, tepatnya pada Februari 2025, RDF Rorotan resmi beroperasi.
Sampah yang dimanfaatkan sebagai bahan RDF Rorotan berasal dari 16 kecamatan, meliputi Cilincing, Koja, Tanjung Priok, Pademangan, Penjaringan, dan Kelapa Gading di Jakarta Utara; Cakung, Duren Sawit, Pulo Gadung, Jatinegara, Matraman, dan Makasar di Jakarta Timur; serta Cempaka Putih, Kemayoran, Johar Baru, dan Senen di Jakarta Pusat.
Baca Juga: Pegawai Ritel di Pasar Minggu Dianiaya Sekelompok Orang, Polisi Tunggu Laporan Korban
Proses pengambilan sampah untuk RDF dimulai dari rumah tangga, restoran, dan fasilitas umum. Sampah-sampah ini nantinya akan dikirim ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang menerapkan prinsip 3R: reduce (pengurangan), reuse (penggunaan kembali), dan recycle (daur ulang). Sampah yang sudah disortir akan diangkut menggunakan truk compactor lalu dikirim ke RDF Plant Rorotan.
Namun, tempat pengolahan sampah untuk bahan bakar alternatif ini justrul menimbulkan dampak buruk bagi warga, terkhusus pemukiman yang berada dalam radius 50 meter hingga satu kilometer dari lokasi RDF tersebut.
Sejumlah warga sekitar turut memprotes terkait bau menyengat yang berasal dari aktivitas pengolahan dan pengangkutan sampah tersebut. Salah satunya warga Perumahan Jakarta Garden City (JGC), Jakarta Timur, Nadine 36 tahun, mengaku masih merasakan dampak operasional fasilitas pengolahan sampah RDF Rorotan yang lokasinya berada tak jauh dari kawasan tempat tinggalnya.
Bahkan, ia menyebut keluhan warga sudah berlangsung hampir satu tahun sejak uji coba fasilitas tersebut dilakukan. Nadine yang telah menetap di JGC sejak 2018 menuturkan, gelombang protes warga mulai muncul sejak uji coba RDF dilakukan sekitar Februari–Maret 2025.
Baca Juga: Dua Pelajar SMP Tergeletak di Jalan Rebo, Polisi Pastikan Tidak Terkait Tawuran
Menurutnya, selama masa uji coba hingga sekarang, warga kerap mencium bau menyengat disertai asap dan partikel mirip abu yang dinilai mengganggu kesehatan.
