Dengan kekuatan pangan nusantara, negeri kita dapat mewujudkan kedaulatan pangan sejati yang tidak tergantung pada negara lain, selain akan tangguh menghadapi situasi global.
Yang hendak saya sampaikan, petani berperan besar dalam mewujudkan penganekaragaman pangan, menyediakan bahan pangan berkualitas untuk mendukung kebutuhan gizi masyarakat Indonesia.
Pertanian yang sehat adalah kunci makanan bergizi. Tak berlebihan sekiranya kita dukung praktik pertanian berkelanjutan, konsumsi hasil tani lokal, dan pilih makanan bergizi untuk menciptakan keluarga sehat dan masa depan yang lebih baik.
Baca Juga: Jasmine Wiljono Siapa? Ini Sosok yang Viral Disebut Sebagai Pemilik Whip Pink
Cukup beralasan pula, jika pada tema dan slogan Hari Gizi Nasional 2026 yang diperingati pada 25 Januari, menekankan pentingnya pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber gizi seimbang serta mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk memulai pola hidup sehat dari pilihan makanan sehari- hari.
Pemanfaatan pangan lokal menjadi salah satu pendekatan penting dalam Hari Gizi Nasional 2026 dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kita tahu negeri kita memiliki kekayaan pangan bergizi seperti ikan dan hasil laut, sayur dan buah lokal, umbi-umbian dan kacang-kacangan.
Data lain menyebutkan Indonesia setidaknya memiliki 77 spesies tanaman pangan lokal yang menjadi sumber karbohidrat, lemak, protein, serta berbagai jenis sayuran, buah – buahan dan rempah – rempah. Sebut saja, singkong, ubi jalar, pisang, jagung, sukun, ganyong, sagu, labu, umbi garut, suweg, gadung, talas, gembili, sorgum.
Keberagaman pangan ini perlu dikembangkan, tak hanya produksi dan kualitasnya, juga pemanfaatannya oleh masyarakat menjadi pola konsumsi gizi yang berimbang, tak melulu fokus ke beras.
Baca Juga: Kopi Pagi: Hak Asasi – Kewajiban Asasi
Tujuannya tak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, juga dapat memperkuat ketahanan pangan nasional, mendukung petani dan nelayan lokal serta menggerakkan ekonomi daerah.
Konsumsi pangan lokal juga menyokong pelestarian keanekaragaman hayati dengan mendorong masyarakat untuk melindungi sumber pangannya. Upaya ini juga dapat membantu mendongkrak wisata kuliner yang semakin populer di Indonesia.
Selain itu, pangan lokal juga menjadi bagian dari budaya dan kearifan lokal. Kampanye yang perlu dibangun bukan bangga atas produk dalam negeri, tetapi berbahagia menanam dan mengosumsi pangan lokal yang penuh gizi, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.
