Ia mengungkapkan, dalam sepekan terakhir, beban tugas yang dijalaninya cukup berat, baik secara fisik maupun mental.
Hal tersebut tak lepas dari duka mendalam yang menyelimuti keluarga besar KKP akibat kecelakaan pesawat ATR 42-500.
“Seminggu terakhir ini memang melelahkan tidak hanya fisik tetapi mental karena keluarga besar KKP tengah ditimpa musibah kecelakaan pesawat ATR 42-500,” ungkapnya.
Dalam pernyataan lanjutan, Sakti Wahyu Trenggono menuturkan bahwa sebelum insiden pingsan tersebut, ia juga tengah menjalankan tugas negara mendampingi Presiden dalam agenda kenegaraan di luar negeri, termasuk di London dan Davos.
Meski demikian, ia menegaskan komitmennya untuk tetap hadir bersama jajaran KKP dalam situasi apa pun, baik suka maupun duka.
“Walau tengah menjalankan tugas negara mendampingi Presiden di London dan Davos, sebagai komandan di KKP saya selalu bersama pasukan baik suka dan duka, menjadi inspektur upacara bagi mereka yang berpulang adalah wujud pendampingan terakhir,” terangnya.
Menutup pernyataannya, Trenggono kembali menyampaikan terima kasih atas dukungan dan doa yang mengalir dari berbagai pihak.
“Sekali lagi terima kasih atas doa dan dukungan semuanya. Jangan pernah lelah mencintai Indonesia,” papar dia.
Daftar Pegawai KKP Korban Kecelakaan
Adapun pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan yang menjadi korban dalam kecelakaan pesawat di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan yakni.
- Ferry Irawan (Analis Kapal Pengawas), 41 tahun Alamat: Komplek Mina Bhakti No. 150, Cikaret, Kota Bogor, Jawa Barat
- Deden Mulyana (Pengelola Barang Milik Negara), 44 tahun Alamat: Jl. Jatiraya 66 H Sofiah No. 15, RT 005/006, Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan
- Yoga Noval Prakoso (Operator Foto Udara), 31 tahun Alamat: Jl. Tutul Raya No. 264, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur
