Masih Punya Utang Puasa? Begini Cara Niat Qadha Ramadan yang Benar

Rabu 21 Jan 2026, 14:35 WIB
Ilustrasi puasa di bulan ramadan (Sumber: Pixabay/Mohammed_Hassan)

Ilustrasi puasa di bulan ramadan (Sumber: Pixabay/Mohammed_Hassan)

POSKOTA.CO.ID - Hembusan suasana Ramadan mulai terasa seiring masuknya hari-hari awal bulan Sya’ban 1447 Hijriah.

Pada Rabu, 21 Januari 2026, umat Islam telah memasuki hari kedua bulan yang kerap disebut sebagai “alarm pengingat” sebelum Ramadan tiba.

Bagi sebagian umat Muslim, terutama kaum perempuan, Sya’ban menjadi momen penting untuk menunaikan utang puasa Ramadan tahun sebelumnya.

Lantas, apakah qadha puasa di bulan Sya’ban diperbolehkan menurut syariat Islam?

Baca Juga: Mati Listrik 7 Hari di Indonesia, Apakah Benar atau Hoaks? Ini Fakta Sebenarnya dan Penjelasan PLN

Hukum Qadha Puasa Ramadan di Bulan Sya’ban

Ilustrasi Puasa qadha Ramadan (Sumber: Pinterest/Flukpnt)

Mengganti puasa Ramadan di bulan Sya’ban hukumnya boleh dan sah, bahkan dinilai sebagai waktu terakhir bagi mereka yang belum melunasi qadha sejak Ramadan sebelumnya.

Ketentuan ini didasarkan pada hadits shahih dari Aisyah RA yang menyebutkan bahwa beliau pernah menunda qadha puasa hingga bulan Sya’ban karena kesibukannya mendampingi Rasulullah SAW.

“Aku pernah mempunyai utang puasa Ramadan, maka aku tidak mampu menggantinya kecuali di bulan Sya’ban karena sibuk melayani Rasulullah SAW.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits tersebut menjadi dalil kuat bahwa qadha puasa hingga bulan Sya’ban tetap diperbolehkan dan tidak melanggar syariat.

Baca Juga: Dikira Boneka, Petugas Kebersihan Temukan Mayat Bayi di Kali Cengkareng Drain

Siapa Saja yang Wajib Mengganti Puasa Ramadan?

Islam memberikan keringanan bagi kelompok tertentu untuk tidak berpuasa Ramadan, namun mewajibkan mereka menggantinya di hari lain. Golongan tersebut antara lain:

  • Perempuan haid dan nifas, wajib qadha puasa tanpa mengganti salat
  • Musafir, yang melakukan perjalanan jauh
  • Orang sakit yang masih memiliki harapan sembuh
  • Orang yang membatalkan puasa dengan sengaja, seperti makan, minum, atau muntah disengaja
  • Adapun orang yang sakit menahun atau lanjut usia tanpa harapan sembuh, kewajibannya diganti dengan fidyah, bukan qadha.

Tata Cara Qadha Puasa Ramadan

Puasa qadha tidak harus dilakukan secara berurutan. Umat Islam diperbolehkan menggantinya secara terpisah atau sekaligus, sesuai kemampuan, selama jumlah hari yang ditunaikan sama dengan puasa yang ditinggalkan.

Namun, satu hal yang tidak boleh ditinggalkan adalah niat. Untuk puasa wajib, niat harus dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar.

Baca Juga: Guru Terduga Pelaku Asusila di SD Tangsel Dinonaktifkan

Bacaan Niat Puasa Ganti (Qadha) Ramadan

Berikut bacaan niat qadha puasa Ramadan:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى

Latin:

Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna lillāhi ta‘ālā.

Artinya:

“Aku berniat mengqadha puasa Ramadan esok hari karena Allah Ta’ala.”

Jangan Menunda Tanpa Alasan Syar’i

Meski diperbolehkan hingga bulan Sya’ban, menunda qadha puasa tanpa uzur syar’i hingga masuk Ramadan berikutnya hukumnya haram dan berdosa.

Pelakunya tetap wajib qadha serta dikenai kewajiban membayar fidyah sebagai bentuk tanggung jawab ibadah.

Mumpung masih berada di awal bulan Sya’ban, umat Islam dianjurkan segera mengevaluasi catatan ibadah dan menyelesaikan utang puasa agar dapat menyambut Ramadan dengan hati yang lebih tenang. Wallahu a‘lam bish-shawab.


Berita Terkait


News Update