Hunian dengan daya 2.200 VA atau di bawahnya umumnya dimiliki oleh keluarga kecil dengan pendapatan rendah hingga menengah.
Konsumsi energi yang relatif rendah, penggunaan peralatan listrik sederhana, serta fokus pada kebutuhan dasar mencerminkan pola hidup yang konservatif dari sisi energi.
Tidak mengherankan jika kelompok ini menjadi lapisan konsumen terbesar PLN dengan jumlah mencapai puluhan juta rumah tangga.
Baca Juga: Akun IG Queivns Apa? Ini Sosok Diduga LC yang Temani Ricky Harun Karaoke
Diskon Listrik sebagai Kode Sosial
Diskon listrik sering dipersepsikan sebagai insentif ekonomi jangka pendek. Namun jika dibaca lebih dalam, kebijakan ini memuat setidaknya tiga pesan sosial penting.
- Pengakuan terhadap rumah tangga berdaya kecil
Kebijakan ini secara implisit mengakui keberadaan kelompok masyarakat yang paling sensitif terhadap kenaikan biaya hidup dan tarif energi.
- Penyangga daya beli masyarakat
Diskon listrik hadir di tengah tekanan ekonomi, termasuk kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) dan biaya hidup lainnya. Ia menjadi bagian dari stimulus untuk menjaga konsumsi rumah tangga tetap stabil.
- Bantuan dengan batas waktu
Meski berdampak langsung, diskon ini bersifat sementara. Pada skema awal, potongan tarif hanya berlaku dalam periode tertentu, seperti Januari–Februari 2025, tanpa jaminan perpanjangan otomatis.
Dampak Nyata di Lapangan
Bagi masyarakat, dampak kebijakan ini terasa langsung. Rumah tangga sederhana terbantu dalam menekan pengeluaran listrik bulanan.
Kontrakan dan kos-kosan berdaya kecil yang banyak dihuni buruh, pekerja migran, dan mahasiswa menjadi kelompok yang paling diuntungkan selama masa diskon.
Lebih dari sekadar kebijakan teknis, diskon listrik membuka jendela pemahaman tentang ketimpangan sosial dan akses terhadap energi sebagai kebutuhan dasar.
Singkatnya, tarif listrik bukan hanya angka di meteran. Ia adalah cerminan struktur hunian dan kondisi ekonomi masyarakat.
