Terkait praktik politik uang, Hendri menyebut FGD secara terbuka mengakui bahwa money politic masih dianggap sebagai bagian dari strategi pemenangan pemilu. Meski demikian, Hendri menegaskan bahwa politik tanpa money politic tetap memungkinkan.
“Tanpa politik uang itu bisa, tapi prosesnya panjang dan butuh konsistensi. Kandidat harus merawat kepercayaan masyarakat dalam waktu lama dengan bukti integritas dan kinerja,” ucap Hendri.
Baca Juga: Pihak Adly Fairuz Nilai Gugatan Rp5 Miliar Tak Berdasar
Hendri menilai, kuatnya praktik politik transaksional tidak terlepas dari ketimpangan kualitas sumber daya manusia, lemahnya tata kelola, serta pelemahan instrumen demokrasi. Oleh karena itu, ia mendorong penguatan peran partai politik dan masyarakat sipil dalam mencetak serta mengawasi calon pemimpin nasional.
“Kalau kita ingin pemimpin yang ideal, maka ekosistem demokrasinya juga harus dibenahi. Tidak cukup hanya menuntut figur, sementara sistemnya masih permisif terhadap politik transaksional,” terang Hendri. (man)
