POSKOTA.CO.ID - Ada hal menarik yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto bahwa seorang pemimpin harus siap menghadapi hujatan dan kritik, tetapi tidak patah semangat.
Berbagai kritik dan komentar negatif dipandangnya sebagai pengingat, bukan penghalang dalam upaya pemerintah mengurus kepentingan seluruh rakyat.
Hal itu disampaikan Prabowo dalam rapat terbatas bersama sepuluh menteri serta Gubernur Aceh Muzakir Manaf, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, dan Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi di lokasi pembangunan Rumah Hunian Danantara di Aceh Tamiang, Aceh, Kamis, 1 Januari 2026.
“Berarti tahun baru Pak Prabowo di lokasi bencana memimpin rapat, memberi arahan, menerima masukan dan usulan terkait penanganan bencana,” kata bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Selamat Masuk Tahun Penuh Dinamika
“Bukan hanya menggelar rapat, juga meninjau penanganan pascabencana, berinteraksi langsung dengan warga masyarakat terdampak bencana,” tambah Yudi.
“Ini cerminan pemimpin yang selalu tampil di depan memberi teladan - ing ngarso sung tulodo. Di tengah membangun semangat - ing madya mangun karsa,” kata mas Bro.
"Membangun semangat kepada para menteri, kepala lembaga dan badan, kepala daerah untuk tidak patah semangat, meski dihujat dan dikritik,” kata Heri.
“Setuju. Kritik itu sebagai pengingat, pemberi semangat agar bekerja lebih giat lagi. Lebih baik lagi,” ujar Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Kegagalan Bukanlah Penghalang
“Dengan adanya kritik kita semakin mengetahui bagian mana yang belum baik, sudah baik dan perlu ditingkatkan lagi,” urai Heri.
“Dengan adanya kritik membuktikan kita telah berbuat sesuatu untuk kebaikan rakyat. Kritik itu mencuat karena kita telah berbuat. Tanpa berbuat, kritik tak akan mencuat,” jelas mas Bro.
“Jadi kita tak perlu alergi terhadap kritik ya. Karena dapat dibilang, kritik itu bagaikan pengawal hidup kita,” kata Heri.
“Bagaimana terhadap kritik yang berlebihan?” tanya Yudi.
“Sikapilah secara bijak. Biarlah kritik bertebaran ke segala ruang publik, pada saatnya data dan fakta akan mengungkap kebenaran,” kata Heri.
“Iya juga saatnya akan terungkap, mana yang sebatas wisata bencana, mana pula yang benar - benar kerja buat rakyat. Mana yang pencitraan, mana yang rela berkorban demi kesejahteraan rakyat,” kata mas Bro.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Jangan Terperosok ke Lubang yang Sama
“Publik sangat paham soal ini ya?,” kata Yudi
“Publik semakin cerdas dalam menilai. Tapi, masyarakat terdampak korban bencana yang lebih dapat merasakan, ketimbang publik yang hanya menyaksikan lewat tayangan gambar dan video," ujar mas Bro. (Joko Lestari)
