Warga Kampung Ujung Tolak Relokasi, Merasa Bakal Makin Miskin jika Tinggal di Rusun

Minggu 30 Nov 2025, 17:12 WIB
Suasana di Kampung Ujung, Kebon Nanas, Jakarta Timur, Minggu, 30 November 2025. (Sumber: POSKOTA | Foto: M Tegar Jihad)

Suasana di Kampung Ujung, Kebon Nanas, Jakarta Timur, Minggu, 30 November 2025. (Sumber: POSKOTA | Foto: M Tegar Jihad)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Aktivitas keseharian warga di Kampung Ujung, Kebon Nanas, Jakarta Timur, berlangsung seperti biasa di tengah rencana relokasi oleh Pemkot Jakarta Timur (Jaktim).

Warga Kampung Ujung yang tinggal di atas tanah makam Tionghoa bakal direlokasi. Deretan bangunan semi permanen berjajar rapat, sebagian dihiasi warung kecil, kursi-kursi plastik, hingga mainan anak-anak yang berserakan di jalan setapak.

Meski berada di wilayah yang kerap dianggap tidak layak, warga justru menyebut kampung itu sebagai tempat yang memberi mereka tumpuan bertahan hidup.

Pemukiman yang telah dihuni warga selama puluhan tahun itu memiliki fasilitas sederhana yang mereka bangun swadaya, mulai dari lapangan bulu tangkis, aula kecil, hingga perpustakaan untuk anak-anak.

Baca Juga: Warga Srimukti Bekasi Akui Dipalak Oknum Desa seusai Terima Kompensasi Penggusuran

Ketua Lingkungan Kampung Ujung, Nuriyadi, 52 tahun, menyampaikan bahwa terdapat 96 kepala keluarga yang tinggal di lokasi tersebut. Ia sendiri sudah tinggal sejak tahun 2000 karena mengikuti mertua.

“Yang paling lama tinggal di sini ada yang sudah 27 tahun, sebagian memang dari dulu sudah tinggal di sini,” ujar Nuryadi kepada Poskota, Minggu, 30 November 2025.

Namun, dikatakan Nuryadi, belakangan warga dikejutkan oleh surat undangan dari kecamatan yang berisi kewajiban mengosongkan area tersebut dalam waktu dua pekan, tanpa sosialisasi sebelumnya.

“Tiba-tiba dapat undangan untuk mengosongkan. Tidak ada pembicaraan dari awal, tidak ada sosialisasi. Tahu-tahu harus kosong dalam dua pekan,” ucap Nuryadi.

Menurut Nuriyadi, seluruh warga menolak direlokasi ke rumah susun karena merasa tidak mampu menanggung biaya hidup di sana.

“Rusun bukan solusi. Justru orang miskin makin miskin. Di sini kami tidak bayar. Kalau pindah ke rusun harus bayar. Warga di sini kerja serabutan. Kerja hari ini untuk makan hari ini,” kata Nuryadi.


Berita Terkait


News Update