KEBAYORAN BARU, POSKOTA.CO.ID - Fenomena orang hilang di Jabodetabek sepanjang tahun 2025 memperlihatkan berbagai dinamika, mulai dari kasus keluarga, kriminal biasa, hingga peristiwa yang bersinggungan dengan aksi politik.
Berdasarkan data Pusiknas Polri, Polda Metro Jaya menerima sebanyak terdapat 413 laporan orang hilang periode 1 Januari hingga 29 November 2025.
Salah satu kasus yang paling menyita perhatian nasional adalah hilangnya Alvaro Kiano Nugroho, bocah enam tahun dari kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
Alvaro dilaporkan hilang pada 6 Maret 2025, setelah tidak kembali dari masjid tempat ia salat Maghrib. Malam itu juga, keluarga menghubungi kepolisian dan mengumumkan pencarian secara mandiri melalui media sosial.
Meski upaya dilakukan intensif selama berbulan-bulan, tidak ada petunjuk berarti yang dapat mengarahkan investigasi.
Baca Juga: Polda Metro Jaya Tegaskan Laporan Orang Hilang Tidak Perlu Menunggu 24 Jam
Hingga akhirnya, pada 23 November 2025, publik dikejutkan oleh temuan Jasad dalam kondisi kerangka di wilayah Tenjo, Bogor. Hasil tes DNA memastikan bahwa kerangka tersebut adalah Alvaro.
Pengungkapan ini sekaligus membongkar rekayasa ayah tirinya, yang ternyata menjadi pelaku pembunuhan dan berusaha menghilangkan jejak dengan membuat skenario seolah-olah Alvaro hilang tanpa jejak.
Kasus ini menyoroti bagaimana peristiwa orang hilang kadang menjadi penutup bagi kejahatan domestik yang lebih gelap.
Berbeda dari kasus Alvaro, rentetan laporan orang hilang setelah demonstrasi besar pada tanggal 25 sampai dengan 31 Agustus 2025 menunjukkan pola yang lebih kompleks.
Pada masa itu, Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menerima lebih dari empat puluh aduan keluarga yang tidak dapat menghubungi kerabatnya setelah aksi.
