Kemudian 30 di antaranya tercatat resmi pada awal September 2025. Banyak peserta aksi berpindah lokasi, pulang melalui jalur berbeda, atau terputus komunikasi selama beberapa hari.
Dalam sebagian kasus, pandangan publik sempat mengarah pada dugaan penghilangan paksa, mengingat konteks demonstrasi saat itu tengah memanas.
Dua nama yang kemudian menjadi pusat perhatian adalah Muhammad Farhan Hamid dan Reno Syahputradewo. Keduanya terakhir terlihat pada 29 Agustus 2025 di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, saat kerusuhan sedang berlangsung.
Setelah mereka tidak kembali dan tidak dapat dihubungi, keluarga melaporkan keduanya sebagai hilang pada periode 25 sampai dengan 31 Agustus 2025, sejajar dengan laporan massal lainnya.
Baca Juga: Identitas Mayat dalam Plastik Belum Terungkap, Polisi Cek Laporan Orang Hilang
Beberapa bulan kemudian dua kerangka ditemukan di gedung Astra Credit Companies (ACC) di Kwitang yang terbakar saat kerusuhan.
Setelah melalui pemeriksaan forensik, hasil tes DNA diumumkan pada 7 November 2025, menyatakan bahwa kedua kerangka tersebut adalah Farhan dan Reno.
Penemuan ini menimbulkan pertanyaan baru mengenai bagaimana dan kapan mereka masuk ke dalam gedung itu, serta mengapa keberadaan mereka baru terungkap setelah dua bulan.
Di sisi lain, beberapa laporan orang hilang dari periode demonstrasi berakhir lebih baik. Sejumlah nama yang sempat masuk daftar hilang ternyata ditemukan dalam kondisi selamat.
Misalnya, Bima Permana Putra yang ditemukan berada di Malang, serta Eko Purnomo yang ditemukan di Kalimantan Tengah.
Rangkaian peristiwa orang hilang di Jabodetabek sepanjang 2025 menunjukkan bahwa penyebab hilangnya seseorang sangat beragam.
Mulai dari kejahatan dalam rumah tangga, penculikan hingga situasi demonstrasi yang kacau, hingga hilangnya komunikasi ketika seseorang berpindah lokasi.
