Ketika masyarakat lebih fokus pada kebutuhan pokok dibandingkan gaya hidup mewah, permintaan untuk hunian premium menurun drastis.
Sejarah mencatat, saat krisis finansial global 2008, banyak properti di Amerika Serikat mengalami penurunan harga signifikan dan butuh waktu bertahun-tahun untuk pulih.
Investor yang menggantungkan seluruh portofolio pada properti mewah perlu mempertimbangkan risiko likuiditas dan fluktuasi pasar yang tajam.
2. Saham Perusahaan Besar yang Kurang Adaptif
Saham perusahaan besar biasanya dianggap stabil karena ukuran dan reputasi mereka.
Namun, perusahaan yang gagal beradaptasi dengan perubahan ekonomi, bergantung pada satu sektor, atau boros dalam pengelolaan keuangan berisiko tinggi ambruk saat krisis.
Di era digital saat ini, kepanikan pasar bisa menyebabkan investor menjual saham secara masif, sehingga harga bisa jatuh dalam hitungan jam atau hari.
Sejarah juga menunjukkan banyak perusahaan raksasa yang dulu berjaya kini hampir hilang dari peta ekonomi karena gagal menyesuaikan diri dengan kondisi baru.
Baca Juga: 3 Strategi Investasi Emas Agar Menghasilkan Keuntungan Optimal, Jangan Sampai Salah Langkah!
3. Emas dan Logam Mulia
Emas sering disebut sebagai “safe haven” karena nilainya yang relatif stabil dibanding aset lain.
Namun, pada krisis besar, terutama yang disertai gejolak geopolitik atau perubahan pasar global, harga emas dapat sangat fluktuatif.
Meski terkadang naik drastis, emas juga bisa jatuh tajam dalam waktu singkat.
Investor yang terlalu menggantungkan harapan hanya pada logam mulia perlu memperhatikan volatilitas ini dan mempertimbangkan diversifikasi portofolio.