Demi Uang Ratusan Ribu, Warga Serbu Ruko World App di Bekasi Meski Diminta Scan Retina

Senin 05 Mei 2025, 14:38 WIB
Sejumlah warga sudah berkumpul di kantor aplikasi world App Jl. Juanda, Bekasi Timur sejak Senin, 5 Mei 2025, pagi hari. (Sumber: Poskota/Nurpini Aulia Rapika)

Sejumlah warga sudah berkumpul di kantor aplikasi world App Jl. Juanda, Bekasi Timur sejak Senin, 5 Mei 2025, pagi hari. (Sumber: Poskota/Nurpini Aulia Rapika)

BEKASI, POSKOTA.CO.ID – Ratusan warga tampak memadati kawasan ruko World App di Jl. Ir. H. Juanda, Bekasi Timur.

Mereka rela antre dan menunggu berjam-jam sejak pukul 08:00 WIB pagi demi mendapatkan uang ratusan ribu rupiah dari aplikasi yang tengah viral tersebut. Warga mengaku tidak khawatir meski harus menyerahkan data retina mata sebagai syarat utama.

Pantauan Poskota pagi ini banyak warga datang dari berbagai daerah, bahkan hingga luar kota.

Mereka tertarik setelah mendengar kabar bahwa aplikasi World App akan memberikan token digital yang bisa diklaim menjadi uang tunai, hanya dengan melakukan verifikasi identitas melalui pemindaian retina mata.

Baca Juga: 10 Negara yang Melarang Aktivitas World App, Kumpulkan Data Retina Mata Pengguna Tanpa Persetujuan

"Nggak ngerti sistemnya gimana, yang penting katanya bisa dapet uang gratis sampai Rp300 ribu. Cuma daftar, janji temu, terus scan mata," ujar Iis, 23 tahun, warga Bekasi yang mengaku sudah datang sejak pagi untuk lakukan janji temu, Senin 5 Mei 2025.

Namun rupanya hingga siang, ruko belum juga dibuka. Iis menyebutkan bahwa aplikasi World App sempat bisa diakses kemarin, namun hari ini tiba-tiba keluar sendiri dari perangkatnya.

Meski begitu, ia tetap bersikeras ingin mendaftar. "Aplikasi sempat bisa, tapi tadi pagi udah nggak bisa dibuka lagi. Katanya sih sistemnya error," tambahnya.

Informasi soal aplikasi ini menyebar luas lewat media sosial dan dari mulut ke mulut. Banyak warga bahkan tidak mempertanyakan risiko keamanan data pribadi, termasuk soal penggunaan data biometrik retina.

"Kalau cuma retina mah nggak apa-apa. Kan bukan KTP atau KK. Lagian katanya itu buat bukti kalau kita manusia asli, bukan robot," kata Ferni, 42 tahun, warga Rawalumbu, Bekasi.

Ferni mengaku tergiur karena besarnya jumlah uang yang ditawarkan.


Berita Terkait


News Update